Jumat, 22 Juli 2011

Kumpulan Kata Mutiara - Sabar Dalam Penantian

SABAR DALAM PENANTIAN (bagian.4)

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Hari demi hari tak terasa sudah sebulan lebih telah ku lalui. Ku ingin membuka lembaran baru ku, membuang jauh hari-hari yang telah berlalu, menata kembali tiap serpihan hati ku yang retak tersakiti karena sikap ku sendiri. Aku harus yakin bahwa Allah telah menyedikan jodoh untuk ku. Kalaupun Allah tidak mempertemukan kami didunia semoga diakhirat kelak kami bisa dipertemukan.

Ku jalani rutinitas hari ini dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Serasa ku menemukan dunia baru. Ada juga kejutan yang ku terima dari Bu Aminah, salah satu orang tua murid privat ku. Beliau memberi ku sepasang pakaian muslimah, dan tambahan uang saku, karena putranya mendapatkan peringkat satu.

Sesampainya dirumah aku ingin memberikan surprize juga buat adik ku. Sudah lama adik ku ingin dibelikan sepatu baru. Alhamdulillah, hari ini ternyata aku bisa membelikannya. Sesekali aku juga ingin mengajaknya lagi malam ini kepasar Malam Minggu.

Kali ini ku ajak adik ku menikmat nasi goreng spesial. Disela-sela kami berdua sedang menikmati nasi goreng, tiba-tiba dari samping ku ada seoarang laki-laki duduk dan kemudian menyapa ku,

“Maaf, Mbak Rina Alfianti ya?”

“Iya benar, Maaf Anda siapa?”

“Masih ingat dengan saya, saya Wisnu Wardana yang ikut di Rohis SMA kita dulu”

Sejenak ku pandang dia, terhenyak tak menyangka dia masih mengingat ku. Sementara aku hampir lupa.

“Oh… iya.. maaf Kak. Hampir lupa. Kesini sama siapa kak?”

“Sendiri, emang mau sama siapa? Cuma ingin cari suasana untuk menenangkan pikiran”

“Ternyata Rin masih seperti yang dulu ya. Kalem, bicaranya lembut dan masih setia dengan jilbab juga”

Ucapan kak Wisnu tiba-tiba membuat ku tersenyum sipu malu. Pernah waktu SMA dulu Kak Wisnu mengungkapkan perasaannya kepada ku, tapi aku belum bisa menerimanya dihati ku. Walau sebenarnya hati ini pun juga menaruh cinta untuknya. Bukan maksud ku melukai hati seseorang, karena waktu itu aku ingin menjadi wanita yang baik, dan aku ingin bisa berprestasi. Aku memang tahu Kak Wisnu sering dapat rangking dikelasnya. Maka dari itu aku tak ingin prestasinya menurun cuma gara-gara terkena virus merah jambu. Hingga akhirnya aku sering menjaga jarak dengannya.

Entah kenapa kali ini dia hadir kembali dihadapan ku. Mungkinkah perasaannya yang dulu pernah ia utarakan kepada ku, akan ia utarakan kembali. Sebenarnya itu pun juga harapan ku yang selama ini menanti hadirnya seorang kekasih yang akan menemani hari-hari ku. Meski begitu aku juga harus bisa menjaga hati ini. Ku tak ingin hati ini tersakiti lagi untuk yang kedua kalinya.

Selesai makan nasi goreng, kami bertiga jalan-jalan mengelilingi pasar Malam Minggu. Tapi malam memang tak mengijinkan kami untuk berlama-lama menikmati pasar Malam Minggu. Langit yang tadinya nampak mendung, akhirnya kini setetes demi setetes air turun kebumi. Saat itulah kami berpisah, karena daerah kami berbeda dan tak sejalan. Tapi sepertinya hati ini tak rela bila kami cepat berpisah. Seakan-akan ada ungkapan yang masih terpendam yang coba ingin kami utarakan. Hanya tatapan mata, itu pun dengan malu-malu tuk kami saling memandang. Hingga…

“Rin, bolehkah besok Sabtu sore saya berkunjung kerumah mu bersama orang tua saya?”

Ucapan itu seolah menjawab ungkapan-ungkapan kami yang masih terpendam. Dan aku tahu ucapan itu adalah sebentuk harapannya untuk meminang ku.

“Kalau Kak Wisnu sudah mantap dan mengharapkan, silahkan…”

Sambil tersenyum ku berikan ucapan itu sebagai bentuk pengaharapan ku jua.
Ku bersyukur, hari ini memang hari yang penuh berkah. Ku kembalikan semua ini kepada sang pemilik cinta.

Sesampai dirumah sesegera ku temui ibu yang sedang istirahat sambil menjahit baju.

“Bu… maaf kalau Rin ganggu. Besok Sabtu sore Kak Wisnu yang dulu teman sekolah Rin di SMA mau silaturahim kesini bersama orang tuanya”

“Ya silahkan… kalau ada orang mau silaturahim kerumah. Semoga saja mendatangkan berkah”

Jawab ibu ku yang kelihatan lelah.

“Tapi kedatangan kak Wisnu sepertinya mau meminang Rin bu?”

Sesaat ibu mengalihkan pandangannya kepada ku. Mungkin ibu belum mempercayainya, kenapa tiba-tiba ada lelaki yang langsung ingin meminang ku.

“Rin…. Apa Rin nggak pikirkan matang-matang dulu? Ibu Cuma tidak ingin apa yang menimpa Rin dulu akan terjadi lagi”

“Insya Allah Rin sudah siap bu. Rin tahu kok siapa kak Wisnu”

Jawab ku sambil membela diri. Tapi memang itulah harapan ku dulu yang ingin mendapat cinta kak Wisnu.

“Ya sudah. Ibu cuma bisa berharap Rin cepat mendapatkan yang terbaik. Yang penting jangan lupa untuk istikharah dulu. Mohonlah bimbingan-Nya. Karena Dialah yang Maha Terbaik pemberiannya”

Malam ini ku mencoba untuk berikhtiar, jika kak Wisnu adalah yang Allah berikan untuk ku, semoga dialah yang terbaik buat ku. Ku berharap malam inilah malam semua harapan-harapan dan do’a ku selama ini terkabulkan. Dalam sujud panjangku ku mohon kehadirat-Nya:

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Oh Tuhan, seandainya telah kau catatkan
Dia milikku tercipta untuk diriku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan

Ya Allah ku mohon apa yang telah Kau takdirkan
Ku harap dia adalah yang terbaik buat ku
Kerana Engkau tahu segala isi hati ku

[Inteam : Do’a seorang kekasih]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Kini Sabtu pun hadir. Saatnya aku menata hati ini, agar niatan ini tak salah lagi. Ternyata benar, Kak Wisnu datang bersama keluarganya. Ibu dan pak RT kemudian menyambutnya. Tapi hati ini sepertinya masih berdebar-debar. Bila selama ini ku merasa sedih dalam penantian, mungkinkah hari ini adalah jawaban atas semua kesedihan itu. Setelah proses maksud keluarga selesai, sesegara ku ikut duduk diruang tamu. Ku lihat Kak Wisnu seperti tegang, seolah ia benar-benar sedang menanti jawaban ku. Dengan terbata-bata dan keyakinan hati “aku terima”. Tanpa terasa butir-butir kristal ini akhirnya jatuh karena kebahagiaan.

Ternyata kini Allah menjawab semua do’a-do’a ku dan ibu ku selama ini.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Sejujurnya aku menghitung hari
Disertai debaran dihati
Karena ini kan jadi satu episode baru dalam hidup ku
Terus terang aku menginginkan niat ini tak mau tertahan
Semoga dia kan selami jiwa bahwa hidupnya denganku
[Faliq : Debaran]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Disudut lain, hati Wisnu kini semakin berdebar-debar menunggu hari-hari yang ditentukan nanti. Saat-saat yang indah, yang setelah sekian lama ia nanti. Kini cintanya yang ia pendam sejak SMA telah terbalas. Tak sekedar cinta semu, tapi cinta yang akan mengikatnya dalam ikatan suci.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

(Selesai.....)

Artikel kedepan "Menjemput Bidadari" sebagai kelanjutan dari artikel yang keempat ini, INSYA ALLAH ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar