Kamis, 29 September 2011

Kata Mutiara - Isra Mi'raj (Rajaban)

¨ بسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم *
السلام عليكم ورحمة الله وبركته

*•*¨*•♫♥♥♥♥♥♫•*¨*• *

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “. (QS. : 17 : 1).

Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan, dan intelegensi kosmik, yang juga bersinar di dalam diri manusia yang melakukan peringatan atau Rajaban di bulan itu, dan merupakan sarana pula untuk menyadari keberadaan yang Maha Esa.

Datangnya wahyu secara tiba-tiba seperti kilat, yang berisikan perintah Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, agar menjalankan Isra' dan Mi'raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dapat disamakan dengan “jatuhnya batu di sebuah kolam air yang menimbulkan riak-riak untuk bergerak keluar seperti lingkaran konsentris dari pusat “.

Al-Qur'an dengan struktur puitisnya, yang berdasarkan irama yang tegas dan pola nada yang sangat halus. Mengundang reaksi dalam jiwa masyarakat Islam, dan menjadikan Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban), sebagai suatu budaya yang sangat penting dalam Agama Islam, karena ia (Isra' Mi'raj) merupakan induk dari berbagai budaya Islam lainnya.

Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw ini (Rajaban) merefleksikan gema kitab Suci dalam pikiran setiap orang muslim yang memperingati atau mengerjakan berbagai ibadah-ibadah suci lainnya seperti puasa, dzikrullah (Istigfar Rajab), dan lain sebagainya di bulan suci itu. Dan pada gilirannya gema tersebut akan membuat kenangan dalam pikiran dan jiwa orang - orang yang melakukannya dengan hati yang ikhlash karena Allah Ta'ala semata. “Karena keikhlasan inilah yang akan mengembalikan mereka pada keadaan dengan kegembiraan dan keindahan surgawi”. Di sinilah pengaruh kimiawi atas jiwa seseorang dalam menjalankan puasa dan memperbanyak dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan itu akan mempengaruhi jiwanya, terhadap adanya kebenaran.

Berdasarkan seluruh kehidupan yang mencerminkan kebudayaan Islam tradisional, semua bentuk-bentuk ibadah didalamnya akan saling berhubungan melalui prinsip-prinsip tradisional, yang meresapkan nilai kesucian, seperti halnya prinsip-prinsip spiritual yang mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia tradisional dalam semua bentuknya.

Nabi Muhammad Saw saat melakukan Mi'raj (pendakian) ketingkat perjalanan akhirnya (langit ke tujuh), menuju hadirat Tuhan, ia diselimuti oleh “Raf-raf” (kain hijau) yang turun dari atas dengan cahayanya yang sangat menyilaukan pandangan matanya. Cahaya itu lebih kuat dari cahaya (sinar) matahari. Setelah raf-raf (kain hijau) membungkus dirinya, Ia (Nabi Muhammad Saw) terangkat keatas dan melintasi tabir demi tabir, yang akhirnya ia (Muhammad Saw) telah melintasi tujuh puluh tabir, yang mana jarak antara tabir ke tabir lainnya adalah lima ratus tahun perjalanan. Dan sampailah ia pada singgasana Tuhan Yang Esa (Al-Arsy).

Cahaya yang menyinari raf-raf (kain hijau) senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan dan mencerminkan Ke Maha Kasih-Nya atas diri manusia yang paling sempurna dimuka bumi (Muhammad). Al-Qur'an telah menyebutkan: “Cahaya diantara cahaya. Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki menuju cahaya” (Q.S.24 : 35).

Tujuh puluh tabir yang dilintasi (dilewati) oleh Nabi Saw, terletak diatas A'raaf (tempat yang paling tinggi diantara surga dan neraka) dan sebagian pembatasnya (surga dan neraka). Pada setiap satu tabir terdapat pintu gerbang yang terbuat dari cahaya. ”Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (Misykat), yang didalamnya ada pelita besar”. (Q.S. 24 : 35).

Selain memudahkan pelaksanaan ibadah puasa dan dzikrullah (Istigfar Rajab), Islam juga mengungkapkan watak teomorfis manusia yang lebih baik daripada menyembunyikannya. Seseorang yang menikmati puasa dan dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan itu (Rajab), atau yang mampu menjalankannya dengan baik dan benar, maka secara potensial ia akan tetap hidup di surga yang ia ciptakan melalui keanggunan batin Al-Qur'an - Al-Kariim.

Sedangkan bagi mereka yang tidak memahami, dan tidak mampu menjalaninya. Maka mereka seperti telah jatuh keluar dari surga itu, karena mereka mengalami kejatuhan spiritual yang menjadi alasan utama desakkan mereka untuk tidak menjalaninya, walau sebenarnya mereka memiliki kemampuan untuk itu. Hal ini menunjukkan kegagalan mereka dalam mencapai tujuan yang suci lagi mulia.

“ Suatu kegagalan dalam mencapai tujuan di luar tradisi spiritual universal mereka terhadap keadaan obyektif dunia, sebuah interpretasi yang sama sekali tidak eksis dalam subyektivisme individual, dan kolektif yang mengalihkan kejatuhan jiwa menjadi keadaan yang dibutuhkan oleh eksistensi manusia dalam dunia kontemporer “.

Masyarakat Islam mampu melaksanakan dan mempertahankan budayanya yang bersifat spiritual sekaligus sensual, menyingkap selubung yang menutupi keindahan dunia ini beserta sifat fananya, dan menjelma dalam bentuk tatanan ibadah dan hari peringatan yang suci dan mensucikan pada alam transenden yang indah melalui teofani Tuhan.

Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) merupakan warisan Muhammad Saw yang tetap di anggap sebagai realitas yang masih hidup dan tetap menyala laksana kutub - kutub spiritual dan norma - norma teladan. Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) tetap menjadi perhatian para pencari kebenaran dalam masyarakat Islam, dan jiwa para pelaku yang menjalankan ibadah puasa dan memperbanyak dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan Rajab itu, akan menjadi nilai universal bagi seluruh dunia Islam pada saat kebodohan mengancam untuk mencekik berbagai bentuk ibadah serta spiritualnya.

Oleh karena itu kewajiban masyarakat Islam adalah mengetahui dan memahami hakikat dari peringatan Isra dan Mi'raj Rasulullah Saw ini, dan bukan dianggap hanya sekadar hiburan semata, akan tetapi pahami pula prinsip-prinsip yang mendasarinya agar mendapatkan manfaat dan peningkatan yang membuatnya menjadi mungkin untuk mengenali lebih dekat dan menembus lebih dalam ke substansi ilahi dan kemudian memberitahukannya kepada yang lain.

Mengenai mereka yang tidak memahami makna dari peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw ini (Rajaban), serta ketidaktahuan mereka atas prinsip-prinsip yang menyelimutinya. Maka merupakan tugas suci lagi mulia untuk tidak menyembunyikan ketidaktahuan mereka dengan sebuah kebanggaan untuk menghancurkan segala sesuatu yang tidak diketahuinya.

“ Kejujuran yang kini dibicarakan setiap orang, menuntut agar seseorang tidak merusak karena kebutaannya terhadap realitas tradisi Islam, ataupun karena kreasi artistik yang telah kehilangan dirinya sendiri “.

Kekuatan kreatif dan kegembiraan seseorang yang melakukan Peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban), jauh dari adanya pencekikan, maka ia akan terbebas dari belenggu dan keterbatasan subyektif dirinya sendiri, dan ia pun akan memperoleh suatu universalitas dan kekuatan yang luar biasa. Orang seperti inilah yang tidak akan pernah menghilangkan makna spiritual dari budaya Islam yang umumnya disebabkan oleh kekeliruan interpretasi mengenai lingkungan tertentu yang membatasi Islam hanya pada aspek luarnya saja dan mengabaikan jurang yang memisahkan keindahan dan kemudharatan.

“Seorang muslim sejati akan dengan rendah hati menyadari keagungan tradisi yang dapat memberi arah dan orientasi kepadanya melalui penyerahan diri, pemusatan dan peleburan batin sepenuhnya “.

Maka dalam penyerahan diri dan bakatnya kepada tradisi ini, ibadah dan dzikrullah (Istigfar Rajab) yang dihasilkannya akan menjadi suci dan bersih dari taqlid buta. Melalui Peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) itu akan terbentuklah kembali keselarasan fundamental yang memungkinkan manusia untuk kembali pada keberadaan dan kesadarannya yang lebih tinggi. Sedangkan doktrin tentang keselarasan dalam makrokosmos akan terwujud pada taraf realitas yang lebih tinggi dan menjadi suram serta semakin samar dalam tingkat kosmos yang semakin rendah. Walaupun keselarasan (tanasub) itu sendiri merupakan bagian dari surgawi, bagian dari kosmik dan hirarki universal serta sekaligus menjadi sumber pencerahan.

Berbagai definisi dalam kebudayaan Islam bahwa Peringatan Isra Mi'raj (Rajaban) berkaitan erat dengan hukum yang mengatur gerak pemikiran manusia dalam perjalanannya menuju sumber spiritualitas sejati dengan beragam landasan epistemologis untuk mencapai kepastian yang logis dan mungkin saja terdapat perbedaan hasil dari masing-masing perjalanan yang dilaluinya itu melalui kemurnian dari tatanan suatu ibadah yang suci dan mensucikan.

Sementara hubungan antara Peringatan Isra Mi'raj (Rajaban) dan ibadah-ibadah suci yang dilakukan di bulan itu adalah merupakan suatu jembatan spiritualisme Islam yang justru dapat ditemukan dari hubungan metafisik yang mengikat keduanya. Karena spiritual dan ibadah tak pelak lagi selalu dikaitkan dengan “logos” dan menurut sudut pandang tradisional merupakan proses yang diikuti oleh pikiran dalam pencariannya (thallab) akan kebenaran.

Proses ini dimungkinkan oleh kekuatan logis pikiran yang merupakan perluasan dari prinsip intelektual, yang tiada lain adalah refleksi dari intelek Tuhan atau logos dalam bentuk pikiran. Prinsip yang sama ini merupakan sebab ontologis realitas kosmik, oleh karenanya ada hubungan (persesuaian) antara proses mental manusia dalam menjalani puasa di bulan Rajab dengan realitas eksternal, dan adanya kemungkinan bagi kecakapan logis pikiran untuk mencari kebenaran yang sesuai dengan realitas eksternal.

Prinsip ini pula-lah yang memberi makna pada substansi ibadah puasa di bulan Rajab itu. Oleh karena itu, menurut doktrin tradisional, puasa dan spiritual mempunyai sumber yang sama, yaitu intelek, dan saling melengkapi, jauh dari adanya pertentangan. Maka Peringatan Isra Mi'raj akan menjadi pertentangan dengan spiritual hanya apabila respek terhadap logika yang telah diubah menjadi rasionalisme, karena sesungguhnya Peringatan Isra Mi'raj dan ibadah-ibadah yang dilakukan di bulan itu merupakan “sarana untuk mengekspresikan pengetahuan yang benar-benar intelektual yang direduksi menjadi transformasi dalam jiwa manusia dengan ditemukannya kembali hubungan primordial manusia dengan prinsip spiritual dan intelektual segala sesuatu”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar