¨ بسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم *
السلام عليكم ورحمة الله وبركته
*•*¨*•♫♥♥♥♥♥♫•*¨*• *
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui “. (QS. : 17 : 1).
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi
Besar Muhammad Saw (Rajaban) senantiasa berhubungan dengan kehadiran
Tuhan, dan intelegensi kosmik, yang juga bersinar di dalam diri manusia
yang melakukan peringatan atau Rajaban di bulan itu, dan merupakan
sarana pula untuk menyadari keberadaan yang Maha Esa.
Datangnya
wahyu secara tiba-tiba seperti kilat, yang berisikan perintah Allah Swt
kepada Nabi Muhammad Saw, agar menjalankan Isra' dan Mi'raj dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dapat disamakan dengan “jatuhnya batu
di sebuah kolam air yang menimbulkan riak-riak untuk bergerak keluar
seperti lingkaran konsentris dari pusat “.
Al-Qur'an dengan
struktur puitisnya, yang berdasarkan irama yang tegas dan pola nada yang
sangat halus. Mengundang reaksi dalam jiwa masyarakat Islam, dan
menjadikan Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban),
sebagai suatu budaya yang sangat penting dalam Agama Islam, karena ia
(Isra' Mi'raj) merupakan induk dari berbagai budaya Islam lainnya.
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw ini (Rajaban)
merefleksikan gema kitab Suci dalam pikiran setiap orang muslim yang
memperingati atau mengerjakan berbagai ibadah-ibadah suci lainnya
seperti puasa, dzikrullah (Istigfar Rajab), dan lain sebagainya di bulan
suci itu. Dan pada gilirannya gema tersebut akan membuat kenangan dalam
pikiran dan jiwa orang - orang yang melakukannya dengan hati yang
ikhlash karena Allah Ta'ala semata. “Karena keikhlasan inilah yang akan
mengembalikan mereka pada keadaan dengan kegembiraan dan keindahan
surgawi”. Di sinilah pengaruh kimiawi atas jiwa seseorang dalam
menjalankan puasa dan memperbanyak dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan
itu akan mempengaruhi jiwanya, terhadap adanya kebenaran.
Berdasarkan seluruh kehidupan yang mencerminkan kebudayaan Islam
tradisional, semua bentuk-bentuk ibadah didalamnya akan saling
berhubungan melalui prinsip-prinsip tradisional, yang meresapkan nilai
kesucian, seperti halnya prinsip-prinsip spiritual yang mendominasi
seluruh aspek kehidupan manusia tradisional dalam semua bentuknya.
Nabi Muhammad Saw saat melakukan Mi'raj (pendakian) ketingkat
perjalanan akhirnya (langit ke tujuh), menuju hadirat Tuhan, ia
diselimuti oleh “Raf-raf” (kain hijau) yang turun dari atas dengan
cahayanya yang sangat menyilaukan pandangan matanya. Cahaya itu lebih
kuat dari cahaya (sinar) matahari. Setelah raf-raf (kain hijau)
membungkus dirinya, Ia (Nabi Muhammad Saw) terangkat keatas dan
melintasi tabir demi tabir, yang akhirnya ia (Muhammad Saw) telah
melintasi tujuh puluh tabir, yang mana jarak antara tabir ke tabir
lainnya adalah lima ratus tahun perjalanan. Dan sampailah ia pada
singgasana Tuhan Yang Esa (Al-Arsy).
Cahaya yang menyinari
raf-raf (kain hijau) senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan dan
mencerminkan Ke Maha Kasih-Nya atas diri manusia yang paling sempurna
dimuka bumi (Muhammad). Al-Qur'an telah menyebutkan: “Cahaya diantara
cahaya. Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki menuju cahaya” (Q.S.24
: 35).
Tujuh puluh tabir yang dilintasi (dilewati) oleh Nabi
Saw, terletak diatas A'raaf (tempat yang paling tinggi diantara surga
dan neraka) dan sebagian pembatasnya (surga dan neraka). Pada setiap
satu tabir terdapat pintu gerbang yang terbuat dari cahaya. ”Perumpamaan
cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (Misykat),
yang didalamnya ada pelita besar”. (Q.S. 24 : 35).
Selain
memudahkan pelaksanaan ibadah puasa dan dzikrullah (Istigfar Rajab),
Islam juga mengungkapkan watak teomorfis manusia yang lebih baik
daripada menyembunyikannya. Seseorang yang menikmati puasa dan
dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan itu (Rajab), atau yang mampu
menjalankannya dengan baik dan benar, maka secara potensial ia akan
tetap hidup di surga yang ia ciptakan melalui keanggunan batin Al-Qur'an
- Al-Kariim.
Sedangkan bagi mereka yang tidak memahami, dan
tidak mampu menjalaninya. Maka mereka seperti telah jatuh keluar dari
surga itu, karena mereka mengalami kejatuhan spiritual yang menjadi
alasan utama desakkan mereka untuk tidak menjalaninya, walau sebenarnya
mereka memiliki kemampuan untuk itu. Hal ini menunjukkan kegagalan
mereka dalam mencapai tujuan yang suci lagi mulia.
“ Suatu
kegagalan dalam mencapai tujuan di luar tradisi spiritual universal
mereka terhadap keadaan obyektif dunia, sebuah interpretasi yang sama
sekali tidak eksis dalam subyektivisme individual, dan kolektif yang
mengalihkan kejatuhan jiwa menjadi keadaan yang dibutuhkan oleh
eksistensi manusia dalam dunia kontemporer “.
Masyarakat Islam
mampu melaksanakan dan mempertahankan budayanya yang bersifat spiritual
sekaligus sensual, menyingkap selubung yang menutupi keindahan dunia ini
beserta sifat fananya, dan menjelma dalam bentuk tatanan ibadah dan
hari peringatan yang suci dan mensucikan pada alam transenden yang indah
melalui teofani Tuhan.
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar
Muhammad Saw (Rajaban) merupakan warisan Muhammad Saw yang tetap di
anggap sebagai realitas yang masih hidup dan tetap menyala laksana kutub
- kutub spiritual dan norma - norma teladan. Peringatan Isra' Mi'raj
Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) tetap menjadi perhatian para pencari
kebenaran dalam masyarakat Islam, dan jiwa para pelaku yang menjalankan
ibadah puasa dan memperbanyak dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan Rajab
itu, akan menjadi nilai universal bagi seluruh dunia Islam pada saat
kebodohan mengancam untuk mencekik berbagai bentuk ibadah serta
spiritualnya.
Oleh karena itu kewajiban masyarakat Islam adalah
mengetahui dan memahami hakikat dari peringatan Isra dan Mi'raj
Rasulullah Saw ini, dan bukan dianggap hanya sekadar hiburan semata,
akan tetapi pahami pula prinsip-prinsip yang mendasarinya agar
mendapatkan manfaat dan peningkatan yang membuatnya menjadi mungkin
untuk mengenali lebih dekat dan menembus lebih dalam ke substansi ilahi
dan kemudian memberitahukannya kepada yang lain.
Mengenai
mereka yang tidak memahami makna dari peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar
Muhammad Saw ini (Rajaban), serta ketidaktahuan mereka atas
prinsip-prinsip yang menyelimutinya. Maka merupakan tugas suci lagi
mulia untuk tidak menyembunyikan ketidaktahuan mereka dengan sebuah
kebanggaan untuk menghancurkan segala sesuatu yang tidak diketahuinya.
“ Kejujuran yang kini dibicarakan setiap orang, menuntut agar seseorang
tidak merusak karena kebutaannya terhadap realitas tradisi Islam,
ataupun karena kreasi artistik yang telah kehilangan dirinya sendiri “.
Kekuatan kreatif dan kegembiraan seseorang yang melakukan Peringatan
Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban), jauh dari adanya
pencekikan, maka ia akan terbebas dari belenggu dan keterbatasan
subyektif dirinya sendiri, dan ia pun akan memperoleh suatu
universalitas dan kekuatan yang luar biasa. Orang seperti inilah yang
tidak akan pernah menghilangkan makna spiritual dari budaya Islam yang
umumnya disebabkan oleh kekeliruan interpretasi mengenai lingkungan
tertentu yang membatasi Islam hanya pada aspek luarnya saja dan
mengabaikan jurang yang memisahkan keindahan dan kemudharatan.
“Seorang muslim sejati akan dengan rendah hati menyadari keagungan
tradisi yang dapat memberi arah dan orientasi kepadanya melalui
penyerahan diri, pemusatan dan peleburan batin sepenuhnya “.
Maka dalam penyerahan diri dan bakatnya kepada tradisi ini, ibadah dan
dzikrullah (Istigfar Rajab) yang dihasilkannya akan menjadi suci dan
bersih dari taqlid buta. Melalui Peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar
Muhammad Saw (Rajaban) itu akan terbentuklah kembali keselarasan
fundamental yang memungkinkan manusia untuk kembali pada keberadaan dan
kesadarannya yang lebih tinggi. Sedangkan doktrin tentang keselarasan
dalam makrokosmos akan terwujud pada taraf realitas yang lebih tinggi
dan menjadi suram serta semakin samar dalam tingkat kosmos yang semakin
rendah. Walaupun keselarasan (tanasub) itu sendiri merupakan bagian dari
surgawi, bagian dari kosmik dan hirarki universal serta sekaligus
menjadi sumber pencerahan.
Berbagai definisi dalam kebudayaan
Islam bahwa Peringatan Isra Mi'raj (Rajaban) berkaitan erat dengan hukum
yang mengatur gerak pemikiran manusia dalam perjalanannya menuju sumber
spiritualitas sejati dengan beragam landasan epistemologis untuk
mencapai kepastian yang logis dan mungkin saja terdapat perbedaan hasil
dari masing-masing perjalanan yang dilaluinya itu melalui kemurnian dari
tatanan suatu ibadah yang suci dan mensucikan.
Sementara
hubungan antara Peringatan Isra Mi'raj (Rajaban) dan ibadah-ibadah suci
yang dilakukan di bulan itu adalah merupakan suatu jembatan
spiritualisme Islam yang justru dapat ditemukan dari hubungan metafisik
yang mengikat keduanya. Karena spiritual dan ibadah tak pelak lagi
selalu dikaitkan dengan “logos” dan menurut sudut pandang tradisional
merupakan proses yang diikuti oleh pikiran dalam pencariannya (thallab)
akan kebenaran.
Proses ini dimungkinkan oleh kekuatan logis
pikiran yang merupakan perluasan dari prinsip intelektual, yang tiada
lain adalah refleksi dari intelek Tuhan atau logos dalam bentuk pikiran.
Prinsip yang sama ini merupakan sebab ontologis realitas kosmik, oleh
karenanya ada hubungan (persesuaian) antara proses mental manusia dalam
menjalani puasa di bulan Rajab dengan realitas eksternal, dan adanya
kemungkinan bagi kecakapan logis pikiran untuk mencari kebenaran yang
sesuai dengan realitas eksternal.
Prinsip ini pula-lah yang
memberi makna pada substansi ibadah puasa di bulan Rajab itu. Oleh
karena itu, menurut doktrin tradisional, puasa dan spiritual mempunyai
sumber yang sama, yaitu intelek, dan saling melengkapi, jauh dari adanya
pertentangan. Maka Peringatan Isra Mi'raj akan menjadi pertentangan
dengan spiritual hanya apabila respek terhadap logika yang telah diubah
menjadi rasionalisme, karena sesungguhnya Peringatan Isra Mi'raj dan
ibadah-ibadah yang dilakukan di bulan itu merupakan “sarana untuk
mengekspresikan pengetahuan yang benar-benar intelektual yang direduksi
menjadi transformasi dalam jiwa manusia dengan ditemukannya kembali
hubungan primordial manusia dengan prinsip spiritual dan intelektual
segala sesuatu”.
Kamis, 29 September 2011
Kata Mutiara - Lidah
Lidah adlh cipta'an allah yg mempunyai peranan pnting dlm kehidupan
manusia.ia bersifat halus lagi penuh misteri.kecil bentuknya tpi amat
besar pengaruhnya.baik pengaruh positif maupun negatif,ia termasuk
menjadi saksi utama atas keimanan seorang,karena iman dan kufur tidak bs
dketahui,kcuali persaksian lidah.-lidah juga dpt mengangkt dan
menghancurkan kehormatan seseorang di hdapan manusia maupun allah.DARI
LIDAH ORANG BISA DI SENANGI,DARI LIDAH JUGA ORNG BISA DI MUSUHI
Kata Mutiara - Maimunah binti Harits, Istri Terakhir Rasulullah
Maimunah binti Harits, Istri Terakhir Rasulullah
Nama lengkapnya adalah Barrah binti Al-Harits bin Hazm bin Bujair bin Hazm bin Rabiah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah. Ibunya bernama Hindun binti Aus bin Zubai bin Harits bin Hamatsah bin Jarsy.
Dalam keluarganya, Maimunah termasuk dalam tiga bersaudara yang memeluk Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Al-Mu’minah adalah tiga bersaudara, yaitu Maimunah, Ummu Fadhal, dan Asma’.”
Maimunah dilahirkan enam tahun sebelum masa kenabian, sehingga dia mengetahui saat-saat orang-orang hijrah ke Madinah. Dia banyak terpengaruh oleh peristiwa hijrah tersebut, dan juga banyak dipengaruhi kakak perempuannya, Ummu Fadhal, yang telah lebih dahulu memeluk Islam. Namun dia menyembunyikan keislamannya karena merasa bahwa lingkungannya tidak mendukung.
Tentang suaminya, banyak riwayat yang memperselisihkan, namun ada juga kesepakatan mereka tentang asal-usul suaminya yang berasal dan keluarga Abdul Uzza (Abu Lahab). Sebagian besar riwayat mengatakan nama suaminya adalah Abu Rahm bin Abdul-Uzza, seorang musyrik yang mati dalam keadaan syirik. Suaminya meninggalkan Maimunah sebagai janda pada usia 26 tahun.
Setelah suaminya meninggal, dengan leluasa Maimunah dapat menyatakan keimanan dan kecintaannya kepada Rasulullah. Sehingga dengan suka rela dia menyerahkan dirinya kepada Rasulullah untuk dinikahi. Dia adalah perempuan terakhir yang dinikahi Nabi SAW. Dan itu dilakukan pada tahun ketujuh Hijriyah dengan mahar 500 dirham.
Tentang penyerahan Maimunah kepada Nabi SAW ini telah dinyatakan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri- istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Ahzab: 50)
Maimunah tinggal bersama saudara perempuannya, Ummul Fadhal, istri Abbas bin Abdul Muththalib. Suatu ketika, kepada kakaknya, Maimunah menyatakan niat penyerahan dirinya kepada Rasulullah. Ummul Fadhal menyampaikan berita itu kepada suaminya sehingga Abbas pun mengabarkannya kepada Rasulullah.
Rasulullah mengutus seseorang kepada Abbas untuk meminang Maimunah. Betapa gembiranya perasaan Maimunah setelah mengetahui kesediaan Rasulullah menikahi dirinya.
Pada tahun berikutnya, setelah perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah bersama kaum Muslimin memasuki Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Sesuai dengan isi perjanjian Hudaibiyah, Nabi diizinkan untuk menetap di sana selama tiga hari.
Namun orang-orang Quraisy menolak permintaan Nabi dan kaum Muslimin untuk berdiam di sana lebih dari tiga hari. Kesempatan itu digunakan Rasulullah SAW untuk melangsungkan pernikahan dengan Maimunah. Setelah pernikahan itu, beliau dan kaum Muslimin meninggalkan Makkah.
Maimunah mulai memasuki kehidupan rumah tangga Rasulullah dan beliau menempatkannya di kamar tersendiri. Maimunah memperlakukan istri-istri beliau yang lain dengan baik dan penuh hormat dengan tujuan mendapatkan kerelaan hati beliau semata.
Tentang Maimunah, Aisyah pernah berkata. “Demi Allah, Maimunah adalah wanita yang baik kepada kami dan selalu menjaga silaturrahmi di antara kami.”
Dia dikenal dengan kezuhudannya, ketakwaannya, dan sikapnya yang selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Ia juga diriwayatkan memiliki ilmu pengetahuan yang luas.
Pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, bertepatan dengan perjalanan kembali dari haji—di suatu tempat dekat Saraf—Maimunah merasa ajalnya sudah tiba. Ketika itu dia berusia 80 tahun, bertepatan dengan tahun ke-61 Hijriyah. Dia dimakamkan di tempat itu juga sebagaimana wasiat yang dia sampaikan.
Maimunah meriwayatkan sekitar 76 hadits dari Nabi SAW. Beberapa hadits yang diriwayatkannya telah ditakhrij dalam kitab hadits Bukhari-Muslim sekitar 13 hadits; 7 hadits sama-sama disepakati oleh kedua imam (muttafaq ‘alaih), satu hadits lainnya ditulis oleh Bukhari, dan 5 hadits lainnya ditulis oleh Muslim.
Nama lengkapnya adalah Barrah binti Al-Harits bin Hazm bin Bujair bin Hazm bin Rabiah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah. Ibunya bernama Hindun binti Aus bin Zubai bin Harits bin Hamatsah bin Jarsy.
Dalam keluarganya, Maimunah termasuk dalam tiga bersaudara yang memeluk Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Al-Mu’minah adalah tiga bersaudara, yaitu Maimunah, Ummu Fadhal, dan Asma’.”
Maimunah dilahirkan enam tahun sebelum masa kenabian, sehingga dia mengetahui saat-saat orang-orang hijrah ke Madinah. Dia banyak terpengaruh oleh peristiwa hijrah tersebut, dan juga banyak dipengaruhi kakak perempuannya, Ummu Fadhal, yang telah lebih dahulu memeluk Islam. Namun dia menyembunyikan keislamannya karena merasa bahwa lingkungannya tidak mendukung.
Tentang suaminya, banyak riwayat yang memperselisihkan, namun ada juga kesepakatan mereka tentang asal-usul suaminya yang berasal dan keluarga Abdul Uzza (Abu Lahab). Sebagian besar riwayat mengatakan nama suaminya adalah Abu Rahm bin Abdul-Uzza, seorang musyrik yang mati dalam keadaan syirik. Suaminya meninggalkan Maimunah sebagai janda pada usia 26 tahun.
Setelah suaminya meninggal, dengan leluasa Maimunah dapat menyatakan keimanan dan kecintaannya kepada Rasulullah. Sehingga dengan suka rela dia menyerahkan dirinya kepada Rasulullah untuk dinikahi. Dia adalah perempuan terakhir yang dinikahi Nabi SAW. Dan itu dilakukan pada tahun ketujuh Hijriyah dengan mahar 500 dirham.
Tentang penyerahan Maimunah kepada Nabi SAW ini telah dinyatakan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri- istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Ahzab: 50)
Maimunah tinggal bersama saudara perempuannya, Ummul Fadhal, istri Abbas bin Abdul Muththalib. Suatu ketika, kepada kakaknya, Maimunah menyatakan niat penyerahan dirinya kepada Rasulullah. Ummul Fadhal menyampaikan berita itu kepada suaminya sehingga Abbas pun mengabarkannya kepada Rasulullah.
Rasulullah mengutus seseorang kepada Abbas untuk meminang Maimunah. Betapa gembiranya perasaan Maimunah setelah mengetahui kesediaan Rasulullah menikahi dirinya.
Pada tahun berikutnya, setelah perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah bersama kaum Muslimin memasuki Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Sesuai dengan isi perjanjian Hudaibiyah, Nabi diizinkan untuk menetap di sana selama tiga hari.
Namun orang-orang Quraisy menolak permintaan Nabi dan kaum Muslimin untuk berdiam di sana lebih dari tiga hari. Kesempatan itu digunakan Rasulullah SAW untuk melangsungkan pernikahan dengan Maimunah. Setelah pernikahan itu, beliau dan kaum Muslimin meninggalkan Makkah.
Maimunah mulai memasuki kehidupan rumah tangga Rasulullah dan beliau menempatkannya di kamar tersendiri. Maimunah memperlakukan istri-istri beliau yang lain dengan baik dan penuh hormat dengan tujuan mendapatkan kerelaan hati beliau semata.
Tentang Maimunah, Aisyah pernah berkata. “Demi Allah, Maimunah adalah wanita yang baik kepada kami dan selalu menjaga silaturrahmi di antara kami.”
Dia dikenal dengan kezuhudannya, ketakwaannya, dan sikapnya yang selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Ia juga diriwayatkan memiliki ilmu pengetahuan yang luas.
Pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, bertepatan dengan perjalanan kembali dari haji—di suatu tempat dekat Saraf—Maimunah merasa ajalnya sudah tiba. Ketika itu dia berusia 80 tahun, bertepatan dengan tahun ke-61 Hijriyah. Dia dimakamkan di tempat itu juga sebagaimana wasiat yang dia sampaikan.
Maimunah meriwayatkan sekitar 76 hadits dari Nabi SAW. Beberapa hadits yang diriwayatkannya telah ditakhrij dalam kitab hadits Bukhari-Muslim sekitar 13 hadits; 7 hadits sama-sama disepakati oleh kedua imam (muttafaq ‘alaih), satu hadits lainnya ditulis oleh Bukhari, dan 5 hadits lainnya ditulis oleh Muslim.
Kata Mutiara
Seandainya waktu dapat di arahkan
aku ingin kau kembali
menemani hati perih
yang selalu menunggu kedatanganmu
bulan kini tiada mempunyai bintang
sama halnya dengan ku
tak pernah ku sangka secepat
itukah kau pergi
sobat temani aku dalam mimpi
agar tiada lagi kesediaan di hati
walau itu tak kan mungkin
tapi kukan selalu berharap
==========================
=
Aku tak tau kenapa pagi tak muncul
kenapa mentari slalu menutupi sinarnya
shabat kau pergi dengan kebahagiaan mu
tingalkan luka seutuhnya untuku
kau adalah cahaya hidupku jangan kau pergi
tinggalkan semua kenangan ini
dariku…. dan hanyalah waktu yang kan menjawab semua ini untuku…!!
aku ingin kau kembali
menemani hati perih
yang selalu menunggu kedatanganmu
bulan kini tiada mempunyai bintang
sama halnya dengan ku
tak pernah ku sangka secepat
itukah kau pergi
sobat temani aku dalam mimpi
agar tiada lagi kesediaan di hati
walau itu tak kan mungkin
tapi kukan selalu berharap
==========================
Aku tak tau kenapa pagi tak muncul
kenapa mentari slalu menutupi sinarnya
shabat kau pergi dengan kebahagiaan mu
tingalkan luka seutuhnya untuku
kau adalah cahaya hidupku jangan kau pergi
tinggalkan semua kenangan ini
dariku…. dan hanyalah waktu yang kan menjawab semua ini untuku…!!
Kata Mutiara - Jihad Cinta
~**~ JIHAD CINTA ~**~
CINTA ..
Andai saja Engkau bisa merasakan getaran hatiku,
Kau akan tahu betapa aku sangat merindui-MU ..
Andai saja kau bisa menadah air mataku,
Kau akan tahu betapa aku takut kehilangan-MU ..
Andai saja Engkau JAUH dari diriku,
Kau akan lihat betapa kosongnya hidupku ..
Andai saja kau HILANG dariku ..
Berjuta nyawa pun tak mampu menghidupkan jiwaku!
Cinta ..
Jatuhnya aku pada kekuatan cinta tanpa melihat-MU ..
Butanya aku pada dugaan yang menguji kasihku ..
Biar nyawa jadi taruhan asalkan cinta ini dipertahankan ..
Biar harta dan jasad tewas ..
Karena cinta ini yang ku damba!
Cinta ..
Menyebut nama-MU takkan pernah jemu ..
Mengingati-MU takkan pernah lupa ..
Memuji-MU takkan pernah rapuh ..
Janji-MU selalu teguh ..
Cinta sehidup dan setelah mati ..
Cinta yang selalu bahagia walau derita ..
Aku menyintai sesuatu karena cinta itu!
Aku hidup karena cinta itu!
AKu mati karena cinta itu!
Cukup bagiku cinta-MU ..
Itulah pelindung yang memeliharaku ..
Itulah ketenangan yang mententeramkan aku ..
Itulah kebahagiaan yang menyinariku ..
Engkau yang selalu ada ..
Engkau yang selalu bersama ..
Terakhir suka dan duka ..
Aku cinta pada-MU ..
Aku cinta pada takdir-MU ..
Aku cinta pada jalan-MU ..
Atas nama cinta ..
"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad itu utusan Allah .."
Atas nafas cinta ...
Subhanallah ..
Alhamdulillah ..
Allahu Akhbar ..
Jihad cinta buat-MU ya Rabb ...
Pelihara nadiku untuk selalu mengingat ..
Pelihara hatiku untuk selalu beriman padaMu ..
Pilihanku ..
Bukannya pada paras rupa yang menawan hati ..
Karena cintaku bukan pada pandangan semata ..
Takut jika diwarnai kegelapan ..
Kita buta hilang arah ..
Pilihanku ..
Bukannya pada manis tutur kata bermadah ..
Karena cintaku bukan pada janji yang merajalela ..
Andainya suara dikaburi fitnah,
Kita rebah tiada bermaya ..
Pilihanku ..
Bukan pada banyaknya harta dunia,
Karena cintaku bukannya ternilai dengan harga ..
Bimbang kemewahan membawa leka ..
Menghilangkan cinta kita padaNya ..
Lalu dimanakah bahagia?
Pilihanku itu ..
seorang yang buta ..
Buta menilai paras rupa ..
Sesungguhnya syahadahnya menggegar seluruh jiwaku ..
Keikhlasannya melakar cinta yang diredha ..
Tongkatnya pada akidah yang menyinari sandi bahagia
Pilihanku itu ...
Seorang yang bisu ..
Bisu mengungkapkan janji yang tiada pasti ..
Karena harapan patokan-patokan pada Illahi ..
Pendiriannya menusuk nurani udara ..
Bait-bait kesyukurannya lahir pada sujud seorang hamba
Pilihanku itu ..
Seorang yang papa dan hina ...
Papa dengan diri yang mengubur
Hina karena sederhana ..
Iman membujuk jiwanya ..
Cintanya pada agama mengikat tali ukhwah ..
Lalu disimpul teguh pada tiang pernikahan ..
Pilihan kami ..
Pada agama yang memelihara
Pada Syahadah yang mengiringi
Pada Alquran yang membimbing ..
Biar ..
Cinta kami pada maha Menyintai ..
Karena janji yang pasti
Cinta kami pada kekasih Illahi
karena menunjukkan jalan bahagia yang hakiki
Kasih istri pada cinta yang diberi ..
Biarlah sampai ke akhirat nanti ...
karena yang sebenarnya ku inginkan padanya ..
Bukan cuma kekasih duniawi ..
Tapi teman menuju syurgawi ..
Banyak yang mencari cinta tetapi tertipu olehnya,
banyak yang kecewa karena cinta dan putus asa pada rahmat-Nya,
banyak yang membenci cinta dan membenci nyawanya.
Jihad cinta buat-Mu ya Rabb. Pelihara nadiku untuk selalu mengingat-Mu. Pelihara hatiku untuk selalu beriman pada-Mu.
CINTA ..
Andai saja Engkau bisa merasakan getaran hatiku,
Kau akan tahu betapa aku sangat merindui-MU ..
Andai saja kau bisa menadah air mataku,
Kau akan tahu betapa aku takut kehilangan-MU ..
Andai saja Engkau JAUH dari diriku,
Kau akan lihat betapa kosongnya hidupku ..
Andai saja kau HILANG dariku ..
Berjuta nyawa pun tak mampu menghidupkan jiwaku!
Cinta ..
Jatuhnya aku pada kekuatan cinta tanpa melihat-MU ..
Butanya aku pada dugaan yang menguji kasihku ..
Biar nyawa jadi taruhan asalkan cinta ini dipertahankan ..
Biar harta dan jasad tewas ..
Karena cinta ini yang ku damba!
Cinta ..
Menyebut nama-MU takkan pernah jemu ..
Mengingati-MU takkan pernah lupa ..
Memuji-MU takkan pernah rapuh ..
Janji-MU selalu teguh ..
Cinta sehidup dan setelah mati ..
Cinta yang selalu bahagia walau derita ..
Aku menyintai sesuatu karena cinta itu!
Aku hidup karena cinta itu!
AKu mati karena cinta itu!
Cukup bagiku cinta-MU ..
Itulah pelindung yang memeliharaku ..
Itulah ketenangan yang mententeramkan aku ..
Itulah kebahagiaan yang menyinariku ..
Engkau yang selalu ada ..
Engkau yang selalu bersama ..
Terakhir suka dan duka ..
Aku cinta pada-MU ..
Aku cinta pada takdir-MU ..
Aku cinta pada jalan-MU ..
Atas nama cinta ..
"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad itu utusan Allah .."
Atas nafas cinta ...
Subhanallah ..
Alhamdulillah ..
Allahu Akhbar ..
Jihad cinta buat-MU ya Rabb ...
Pelihara nadiku untuk selalu mengingat ..
Pelihara hatiku untuk selalu beriman padaMu ..
Pilihanku ..
Bukannya pada paras rupa yang menawan hati ..
Karena cintaku bukan pada pandangan semata ..
Takut jika diwarnai kegelapan ..
Kita buta hilang arah ..
Pilihanku ..
Bukannya pada manis tutur kata bermadah ..
Karena cintaku bukan pada janji yang merajalela ..
Andainya suara dikaburi fitnah,
Kita rebah tiada bermaya ..
Pilihanku ..
Bukan pada banyaknya harta dunia,
Karena cintaku bukannya ternilai dengan harga ..
Bimbang kemewahan membawa leka ..
Menghilangkan cinta kita padaNya ..
Lalu dimanakah bahagia?
Pilihanku itu ..
seorang yang buta ..
Buta menilai paras rupa ..
Sesungguhnya syahadahnya menggegar seluruh jiwaku ..
Keikhlasannya melakar cinta yang diredha ..
Tongkatnya pada akidah yang menyinari sandi bahagia
Pilihanku itu ...
Seorang yang bisu ..
Bisu mengungkapkan janji yang tiada pasti ..
Karena harapan patokan-patokan pada Illahi ..
Pendiriannya menusuk nurani udara ..
Bait-bait kesyukurannya lahir pada sujud seorang hamba
Pilihanku itu ..
Seorang yang papa dan hina ...
Papa dengan diri yang mengubur
Hina karena sederhana ..
Iman membujuk jiwanya ..
Cintanya pada agama mengikat tali ukhwah ..
Lalu disimpul teguh pada tiang pernikahan ..
Pilihan kami ..
Pada agama yang memelihara
Pada Syahadah yang mengiringi
Pada Alquran yang membimbing ..
Biar ..
Cinta kami pada maha Menyintai ..
Karena janji yang pasti
Cinta kami pada kekasih Illahi
karena menunjukkan jalan bahagia yang hakiki
Kasih istri pada cinta yang diberi ..
Biarlah sampai ke akhirat nanti ...
karena yang sebenarnya ku inginkan padanya ..
Bukan cuma kekasih duniawi ..
Tapi teman menuju syurgawi ..
Banyak yang mencari cinta tetapi tertipu olehnya,
banyak yang kecewa karena cinta dan putus asa pada rahmat-Nya,
banyak yang membenci cinta dan membenci nyawanya.
Jihad cinta buat-Mu ya Rabb. Pelihara nadiku untuk selalu mengingat-Mu. Pelihara hatiku untuk selalu beriman pada-Mu.
Kata Mutiara - ISTIMEWANYA HARI JUM’AT
ISTIMEWANYA HARI JUM’AT
Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah... hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah mengkhususkan umat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dan mengistimewakan mereka dari umat-umat yang lainnya dengan berbagai keistimewaan. Diantaranya adalah Allah subhanahu wata’ala memilihkan bagi mereka hari yang agung yaitu hari jum’at.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah dan Hudzaifah radhiallahu anhum berkata: Allah subhanahu wata’ala telah merahasiakan hari jum’at terhadap umat sebelum kita, maka orang-orang Yahudi memiliki hari sabtu, orang-orang Nashrani hari ahad, maka Allah subhanahu wata’ala mendatangkan umat ini, lalu Dia menunjukan kita hari jum’at ini, maka Dia menjadikan urutannya menjadi jum’at, sabtu ahad, demikian pula mereka akan mengikuti kita pada hari kiamat, kita adalah umat terakhir di dunia ini namun yang pertama di hari kiamat, yang akan diputuskan perkaranya sebelum makhluk yang lain”.
(Shahih Muslim no: 856 dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan maknanya dari Abi Hurairah ra no: 876).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Hari terbaik terbitnya matahari adalah pada hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu tersebut dia dikeluarkan dari surga” (HR. Muslim: no: 854)
Di antara keutamaan hari ini adalah Allah subhanahu wata’ala menjadikan hari ini sebagai hari ‘ied bagi kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam sunannya dari Ibnu Abbas radhhiyallahu a’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya hari ini adalah hari raya, Allah menjadikannya istimewa bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang akan mendatangi shalat jum’at maka hendaklah dia mandi”. (Ibnu Majah no: 1098)
Pada hari ini terdapat saat terkabulnya do’a, yaitu saat di mana tidaklah seorang hamba meminta kepada Allah subhanahu wata’ala padanya kecuali dia akan dikabulkan permohonannya. Diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahu a’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya pada hari jum’at terdapat satu saat tidaklah seorang muslim mendapatkannya dan dia dalam keadaan berdiri shalat dia meminta kepada Allah suatu kebaikan kecuali Allah memberikannya, dan dia menunjukkan dengan tangannya bahwa saat tersebut sangat sedikit. ( HR. Muslim no: 852 dan Al-Bukhari no: 5294)
Para ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya dan pendapat yang paling kuat adalah dua pendapat:
1. Yaitu saat duduknya imam sehingga shalat selesai, dan alasan ulama yang berpendapat seperti ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Barrah bin Abi Musa bahwa Abdullah bin Umar berkata kepadanya: Apakah engkau pernah mendengar bapakmu membacakan sebuah hadist yang berhubungan dengan saat mustajab pada hari jum’at?. Dia berkata: Ya aku pernah mendengarnya berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Dia terjadi saat antara imam duduk sehingga shalat selesai ditunaikan”.
2. Dia terjadi setelah asar, dan pendapat inilah yang paling kuat di antara dua pendapat tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Nasa’i dari Jabir radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Hari jum’at itu dua belas jam, tidaklah seorang hamba yang muslim memohon kepada Allah sesuatu pada hari itu kecuali Dia akan memperkenankan permohonan hamab -Nya itu, maka carilah dia pada akhir waktu asar” (HR. An-Nasa’i: no: 1389).
Pendapat inilah yang dipegang oleh sebagian besar golongan salaf, dan telah didukung oleh berbagai hadits. Adapun tentang hadits riwayat Abi Musa yang sebelumnya maka hadits tersebut memiliki banyak cacat dan telah disebutkan oleh Al-hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari.
Di antara keutamaannya adalah bahwa hari itu adalah hari dihapuskannya dosa-dosa.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Shalat lima waktu, jum’at ke jum’at yang lainnya dan ramadhan ke ramadhan yang lain adalah penghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi”.
Di antara adab-adab jum’at yang perlu dijaga oleh orang yang beriman adalah:
1. Disunnahkan bagi imam untuk membaca (الم تنزيل) yaitu surat as-sajdah dan surat Al-Insan pada saat shalat fajar pada hari jum’at.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits riwayat Ibnu Abbas radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam membaca pada waktu shalat fajar pada hari jum’at (الم تنزيل) as-sajdah dan (هل أتى على الإنسان حين من الدهر)
2. Disunnahkan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam pada hari jum’at atau pada waktu malamnya, berdasarkan sabda Nabi dalam riwayat An-Nasa’i dari Aus bin Aus: Hari terbaik kalian adalah hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dicabut nyawanya, pada hari itu akan terjadi tiupan sangkakala, pada hari itu dimatikannya seluruh makhluk pada hari kiamat, maka perbanyaklah membaca shalawat bagiku sebab shalawat kalian didatangkan kepadaku”.
Mereka bertanya wahai Rasulullah bagiamana shalawat kami didatangkan kepadamu padahal dirimu telah menjadi tulang belulang yang telah remuk?. Atau mereka berkata: Engkau telah remuk mejadi tanah?. Maka Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah mengharamkan kepada bumi memakan jasad para Nabi alaihimus shalatu was salam”. ( An—Nasa’I no: 1374)
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah membaca shalawat bagiku pada ahari jum’at dan malam jum’at, sebab barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku satu shalawat saja maka Allah subhanahu wata’ala akan membaca shalawat kepadanya sepuluh kali shalawat”.
3. Perintah untuk mandi jum’at dan masalah ini sangat ditekankan, bahkan sebagian ulama mengatakan wajib.
Diriwayatkn oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Sa’id Al-Khudri radhhiyallahua’nhu berkata: Aku bersaksi bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Mandi pada hari Jum’at diwajibkan bagi orang yang telah mencapai usia balig dan menjalankan shalat sunnah dan memakai minyak wangi jika ada”.
4. Disunnahkan menggunakan minyak wangi dan siwak, memakai pakaian yang terbaik.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Abi Sa’id AL-Khudri dan Abi Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at, memakai siwak, memakai pakaian yang terbaik, memakai minyak wangi jika dia memilikinya, memakai pakaian yang terbaiknya kemudan mendatangi mesjid sementara dia tidak melangkahi punak-pundak orang lain sehingga dia ruku’ (shalat) sekehendaknya, kemudian mendengarkan imam pada saat dia berdiri untuk berkhutbah sehingga selesai shalatnya maka hal itu sebagai penghapus dosa-dosa yang terjadi antara jum’at ini dengan hari jum’at sebelumnya ( Imam Ahmad: 3/81)
5. Mambaca surat Al-Khafi.
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari hadits Abi Said Al-Khudri radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang membaca surat Al-kahfi pada hari jum’at maka akan maka sinar akan memancar meneranginya antara dua jum’at”. (Al-Hakim: 3/81).
6. Disunnahkan bersegera menuju shalat jum’at.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Aus Al-Tsaqofi dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang memandikan dan mandi, lalu bergegas menuju mesjid, mendekat kepada posisi imam, mendengar dan memperhatikan khutbah maka baginya dengan setiap langkah yang dilangkahkannya akan mendapat pahala satu tahun termasuk puasanya”. ( Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya: 2/209)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at yang sama seperti mandi janabah kemudian bersegera pergi ke mesjid maka dirinya seakan telah berkurban dengan seekor unta yang gemuk, dan barangsiapa yang pergi pada masa ke dua maka dia seakan berkurban dengan seekor sapi, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang ke tiga maka dia seakan telah berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang keempat maka dia seakan telah berkurban dengan seekor ayam, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang ke empat maka dia seakan telah berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang maka para malaikat hadir mendengarkan zikir (khutbah).”
Dan bersegera menuju masjid untuk shalat jum’at termasuk perbuatan sunnah yang agung nilainya, namun banyak dilalaikan oleh banyak masyarakat, dan semoga hadits-hadits yang telah disebutkan di atas bisa memberikan motifasi dan memperkuat tekad, serta mengasah semangat untuk bersegera meraih nilai yang utama ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS. Ali imron: 133)
Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
iloveallah.com
Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah... hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah mengkhususkan umat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dan mengistimewakan mereka dari umat-umat yang lainnya dengan berbagai keistimewaan. Diantaranya adalah Allah subhanahu wata’ala memilihkan bagi mereka hari yang agung yaitu hari jum’at.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah dan Hudzaifah radhiallahu anhum berkata: Allah subhanahu wata’ala telah merahasiakan hari jum’at terhadap umat sebelum kita, maka orang-orang Yahudi memiliki hari sabtu, orang-orang Nashrani hari ahad, maka Allah subhanahu wata’ala mendatangkan umat ini, lalu Dia menunjukan kita hari jum’at ini, maka Dia menjadikan urutannya menjadi jum’at, sabtu ahad, demikian pula mereka akan mengikuti kita pada hari kiamat, kita adalah umat terakhir di dunia ini namun yang pertama di hari kiamat, yang akan diputuskan perkaranya sebelum makhluk yang lain”.
(Shahih Muslim no: 856 dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan maknanya dari Abi Hurairah ra no: 876).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Hari terbaik terbitnya matahari adalah pada hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu tersebut dia dikeluarkan dari surga” (HR. Muslim: no: 854)
Di antara keutamaan hari ini adalah Allah subhanahu wata’ala menjadikan hari ini sebagai hari ‘ied bagi kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam sunannya dari Ibnu Abbas radhhiyallahu a’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya hari ini adalah hari raya, Allah menjadikannya istimewa bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang akan mendatangi shalat jum’at maka hendaklah dia mandi”. (Ibnu Majah no: 1098)
Pada hari ini terdapat saat terkabulnya do’a, yaitu saat di mana tidaklah seorang hamba meminta kepada Allah subhanahu wata’ala padanya kecuali dia akan dikabulkan permohonannya. Diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahu a’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya pada hari jum’at terdapat satu saat tidaklah seorang muslim mendapatkannya dan dia dalam keadaan berdiri shalat dia meminta kepada Allah suatu kebaikan kecuali Allah memberikannya, dan dia menunjukkan dengan tangannya bahwa saat tersebut sangat sedikit. ( HR. Muslim no: 852 dan Al-Bukhari no: 5294)
Para ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya dan pendapat yang paling kuat adalah dua pendapat:
1. Yaitu saat duduknya imam sehingga shalat selesai, dan alasan ulama yang berpendapat seperti ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Barrah bin Abi Musa bahwa Abdullah bin Umar berkata kepadanya: Apakah engkau pernah mendengar bapakmu membacakan sebuah hadist yang berhubungan dengan saat mustajab pada hari jum’at?. Dia berkata: Ya aku pernah mendengarnya berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Dia terjadi saat antara imam duduk sehingga shalat selesai ditunaikan”.
2. Dia terjadi setelah asar, dan pendapat inilah yang paling kuat di antara dua pendapat tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Nasa’i dari Jabir radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Hari jum’at itu dua belas jam, tidaklah seorang hamba yang muslim memohon kepada Allah sesuatu pada hari itu kecuali Dia akan memperkenankan permohonan hamab -Nya itu, maka carilah dia pada akhir waktu asar” (HR. An-Nasa’i: no: 1389).
Pendapat inilah yang dipegang oleh sebagian besar golongan salaf, dan telah didukung oleh berbagai hadits. Adapun tentang hadits riwayat Abi Musa yang sebelumnya maka hadits tersebut memiliki banyak cacat dan telah disebutkan oleh Al-hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari.
Di antara keutamaannya adalah bahwa hari itu adalah hari dihapuskannya dosa-dosa.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Shalat lima waktu, jum’at ke jum’at yang lainnya dan ramadhan ke ramadhan yang lain adalah penghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi”.
Di antara adab-adab jum’at yang perlu dijaga oleh orang yang beriman adalah:
1. Disunnahkan bagi imam untuk membaca (الم تنزيل) yaitu surat as-sajdah dan surat Al-Insan pada saat shalat fajar pada hari jum’at.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits riwayat Ibnu Abbas radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam membaca pada waktu shalat fajar pada hari jum’at (الم تنزيل) as-sajdah dan (هل أتى على الإنسان حين من الدهر)
2. Disunnahkan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam pada hari jum’at atau pada waktu malamnya, berdasarkan sabda Nabi dalam riwayat An-Nasa’i dari Aus bin Aus: Hari terbaik kalian adalah hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dicabut nyawanya, pada hari itu akan terjadi tiupan sangkakala, pada hari itu dimatikannya seluruh makhluk pada hari kiamat, maka perbanyaklah membaca shalawat bagiku sebab shalawat kalian didatangkan kepadaku”.
Mereka bertanya wahai Rasulullah bagiamana shalawat kami didatangkan kepadamu padahal dirimu telah menjadi tulang belulang yang telah remuk?. Atau mereka berkata: Engkau telah remuk mejadi tanah?. Maka Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah mengharamkan kepada bumi memakan jasad para Nabi alaihimus shalatu was salam”. ( An—Nasa’I no: 1374)
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah membaca shalawat bagiku pada ahari jum’at dan malam jum’at, sebab barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku satu shalawat saja maka Allah subhanahu wata’ala akan membaca shalawat kepadanya sepuluh kali shalawat”.
3. Perintah untuk mandi jum’at dan masalah ini sangat ditekankan, bahkan sebagian ulama mengatakan wajib.
Diriwayatkn oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Sa’id Al-Khudri radhhiyallahua’nhu berkata: Aku bersaksi bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Mandi pada hari Jum’at diwajibkan bagi orang yang telah mencapai usia balig dan menjalankan shalat sunnah dan memakai minyak wangi jika ada”.
4. Disunnahkan menggunakan minyak wangi dan siwak, memakai pakaian yang terbaik.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Abi Sa’id AL-Khudri dan Abi Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at, memakai siwak, memakai pakaian yang terbaik, memakai minyak wangi jika dia memilikinya, memakai pakaian yang terbaiknya kemudan mendatangi mesjid sementara dia tidak melangkahi punak-pundak orang lain sehingga dia ruku’ (shalat) sekehendaknya, kemudian mendengarkan imam pada saat dia berdiri untuk berkhutbah sehingga selesai shalatnya maka hal itu sebagai penghapus dosa-dosa yang terjadi antara jum’at ini dengan hari jum’at sebelumnya ( Imam Ahmad: 3/81)
5. Mambaca surat Al-Khafi.
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari hadits Abi Said Al-Khudri radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang membaca surat Al-kahfi pada hari jum’at maka akan maka sinar akan memancar meneranginya antara dua jum’at”. (Al-Hakim: 3/81).
6. Disunnahkan bersegera menuju shalat jum’at.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Aus Al-Tsaqofi dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang memandikan dan mandi, lalu bergegas menuju mesjid, mendekat kepada posisi imam, mendengar dan memperhatikan khutbah maka baginya dengan setiap langkah yang dilangkahkannya akan mendapat pahala satu tahun termasuk puasanya”. ( Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya: 2/209)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at yang sama seperti mandi janabah kemudian bersegera pergi ke mesjid maka dirinya seakan telah berkurban dengan seekor unta yang gemuk, dan barangsiapa yang pergi pada masa ke dua maka dia seakan berkurban dengan seekor sapi, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang ke tiga maka dia seakan telah berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang keempat maka dia seakan telah berkurban dengan seekor ayam, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang ke empat maka dia seakan telah berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang maka para malaikat hadir mendengarkan zikir (khutbah).”
Dan bersegera menuju masjid untuk shalat jum’at termasuk perbuatan sunnah yang agung nilainya, namun banyak dilalaikan oleh banyak masyarakat, dan semoga hadits-hadits yang telah disebutkan di atas bisa memberikan motifasi dan memperkuat tekad, serta mengasah semangat untuk bersegera meraih nilai yang utama ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS. Ali imron: 133)
Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
iloveallah.com
Kata Mutiara
MUSLIMAH....
Rindukan selalu Al-Qur'an kita pada setiap hari-hari kita.
MUSLIMAH....
Hadirkan QALBU kita pada saat tilawah Al-Qur'an.
Ibnu Qayyim Rahimahullah:
''Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur'an ,maka hadirkanlah QALBU-mu pada saat tilawah(membaca)dan mendengarnya.Perhatikanlah
,dan
berkonsentrasinya orang yang diseru A-Qur'an oleh orang yang langsung
diajak bicara oleh Azza wa jalla,karena Al-Qur'an adalah seruan Alloh
kepadamu melalui lidah Rasul-Nya.''
ISTIQOMAHLAH...
Wujudkan impian menjadi MUSLIMAH SHALEHAH.
Rindukan selalu Al-Qur'an kita pada setiap hari-hari kita.
MUSLIMAH....
Hadirkan QALBU kita pada saat tilawah Al-Qur'an.
Ibnu Qayyim Rahimahullah:
''Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur'an ,maka hadirkanlah QALBU-mu pada saat tilawah(membaca)dan mendengarnya.Perhatikanlah
ISTIQOMAHLAH...
Wujudkan impian menjadi MUSLIMAH SHALEHAH.
Langganan:
Postingan (Atom)