PACARAN VS TA'ARUF
Sahabatku..., sebetulnya apa sih pacaran
itu? Biasanya nih.., kalau ada cowok dan cewek saling suka, salah
satunya nyatain dan yang lainnya terima, itu berarti sudah pacaran. Buat
sebagian orang pacaran itu isinya jalan berdua, makan, nonton,
curhat-curhatan. Pokoknya just for fun lah!
Sebagai umat Islam kita perlu lho mengkritisi apakah “praktek pacaran” ini, sesuai atau tidak dengan aturan-aturan dalam Islam.
Pertama, kalau lagi pacaran maunya berdua terus. Beberapa hari tidak
ditelpon udah resah, seharian tidak di sms udah kangen. Begitu ketemu
pengen memandang wajahnya terus. Apalagi kalau pakai acara mojok berdua,
di tempat sepi mesra-mesraan. Waduh, hati-hati deh.
Rasulullah SAW
bersabda, “ Tiada bersepi-sepian seorang lelaki dan perempuan, melainkan
syetan merupakan orang ketiga diantara mereka.” Nah lo....
Kedua, kalau lagi pacaran rasanya seperti dimabuk cinta. Lupa yang
lainnya. Dunia serasa milik berdua yang lainnya ngontrak. Hati-hati juga
nih, nanti kita bisa lupa sama tujuan ALLAH menciptakan kita (manusia).
FirmanNya, “ Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia, kecuali untuk
beribadah kepadaKu.” (QS 51:56)
Ketiga, di jaman serba permisif
ini seks udah jadi bumbu penyedap dalam pacaran (Majalah Hai edisi 4-10
Maret 2002). Majalah Kosmopolitan juga mengadakan riset di lima
universitas terbesar di Jakarta, dan ternyata dari yang mengaku pernah
melakukan aktivitas seksual, sebanyak 67,1% pertama kali melakukan
dengan pacarnya. Astaghfirullah.. :(
Memang banyak orang
pacaran awalnya tidak menjurus ke sana. Tapi gara-gara sering berdua,
ada kesempatan, dan diem-diem syetan udah ngerubung, yah terjadilah.
Pertama pegang tangan, terus rangkul pundak, terus…..terus…..wah bisa
kebablasan deh. Sahabatku, agama kita sangat melarang perbuatan semacam
itu.
FirmanNya, “Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu pekerjaan yang keji dan suatu jalan
yang buruk.” (QS 17:32)
Ternyata Al Quran udah melakukan tindakan
preventif dengan melarang mendekatinya, bukan melarang melakukannya.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Seandainya kamu ditusuk dengan jarum
besi, maka itu lebih baik bagimu daripada menyentuh perempuan yang tidak
halal bagimu.” So.., pegang-pegangan tangan dengan non muhrim juga
tidak diperbolehkan.
Keempat, ternyata pacaran bukan jaminan
akan berlanjut ke jenjang perkawinan. Banyak orang di sekitar kita yang
sudah bertahun-tahun pacaran ternyata kandas di tengah jalan. Pacaran
pun tidak menjadikan kita tahu segalanya tentang si dia. Banyak yang
sikapnya berubah setelah menikah.
Kalaulah kini kita tahu
praktek pacaran tidak menjadi suatu jaminan bahkan banyak melanggar
aturan ALLAH dan tidak mendapat ridhoNya, masihkah kita yang mengaku
hambaNya, yang menginginkan surgaNya, yang takut akan nerakaNya, masih
melakukannya?” Hmm..., tapi kalau bukan dengan pacaran, gimana caranya
kita ketemu jodoh? Jaman sekarang kan kita tidak bisa gampang percaya
sama orang, jadi perlu ada penjajagan”. Sahabatku.., Islam punya solusi
yang mantap dan OK dalam memilih jodoh. Istilahnya ngetop dengan nama
TA’ARUF, yang artinya perkenalan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam masalah taaruf.
Pertama, ta’aruf itu sebenarnya hanya untuk penjajagan sebelum menikah.
Jadi kalau salah satu atau keduanya nggak merasa sreg bisa menyudahi
ta’arufnya. Ini lebih baik daripada orang yang pacaran lalu putus.
Biasanya orang yang pacaran hatinya sudah bertaut sehingga kalau tidak
cocok sulit putus dan terasa menyakitkan. Tapi ta’aruf, yang Insya ALLAH
niatnya untuk menikah Lillahi Ta’ala, kalau tidak cocok bertawakal
saja, mungkin memang bukan jodoh. Tidak ada pihak yang dirugikan maupun
merugikan.
Kedua, ta’aruf itu lebih fair. Masa penjajakan diisi
dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing baik kebaikan
maupun keburukannya. Bahkan kalau kita tidurnya sering ngorok,
misalnya, sebaiknya diberitahukan kepada calon kita agar tidak
menimbukan kekecewaan di kemudian hari. Begitu pula dengan
kekurangan-kekurangan lainnya, seperti mengidap penyakit tertentu, tidak
bisa masak, atau yang lainnya. Informasi bukan cuma dari si calon
langsung, tapi juga dari orang-orang yang mengenalnya (sahabat, guru
ngaji, orang tua si calon). Jadi si calon tidak bisa ngaku-ngaku dirinya
baik. Ini berbeda dengan orang pacaran yang biasanya semu dan penuh
kepura-puraan. Yang perempuan akan dandan habis-habisan dan malu-malu
(sampai makan pun jadi sedikit gara-gara takut dibilang rakus). Yang
laki-laki biarpun lagi bokek tetap berlagak kaya traktir ini itu
(padahal dapet duit dari minjem temen atau hasil ngerengek ke ortu tuh).
Ketiga, dengan ta’aruf kita bisa berusaha mengenal calon dan
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya. Hal ini bisa terjadi karena kedua belah pihak
telah siap menikah dan siap membuka diri baik kelebihan maupun
kekurangan. Ini kan penghematan waktu yang besar. Coba bandingkan dengan
orang pacaran yang sudah lama pacarannya sering tetap merasa belum bisa
mengenal pasangannya. Bukankah sia-sia belaka?
Keempat,
melalui ta’aruf kita boleh mengajukan kriteria calon yang kita inginkan.
Kalau ada hal-hal yang cocok Alhamdulillah tapi kalau ada yang kurang
sreg bisa dipertimbangan dengan memakai hati dan pikiran yang sehat.
Keputusan akhir pun tetap berdasarkan dialog dengan ALLAH melalui sholat
istikharah. Berbeda dengan orang yang mabuk cinta dan pacaran. Kadang
hal buruk pada pacarnya, misalnya pacarnya suka memukul, suka mabuk,
tapi tetap bisa menerima padahal hati kecilnya tidak menyukainya. Tapi
karena cinta (atau sebenarnya nafsu) terpaksa menerimanya.
Kelima, kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka waktu ta’aruf ke
khitbah (lamaran) dan ke akad nikah tidak terlalu lama.Ini bisa
menghindarkan kita dari berbagai macam zina termasuk zina hati. Selain
itu tidak ada perasaan “digantung” pada pihak perempuan. Karena semuanya
sudah jelas tujuannya adalah untuk memenuhi sunah Rasulullah yaitu
menikah.
Keenam, dalam ta’aruf tetap dijaga adab berhubungan
antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada pihak ketiga yang
memperkenalkan. Jadi kemungkinan berkhalwat (berdua-duaan) kecil yang
artinya kita terhindar dari zina.
Sahabatku, perlu digaris
bawahi, ta'aruf hanyalah sebuah proses saling mengenal, belum ada ikatan
untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang
namanya khitbah. Ta'aruf bukanlah sebuah kepastian, hanyalah salah satu
ikhtiar manusia, sedangkan jodoh ada di tangan ALLAH. Sehebat-hebatnya
sebuah rencana, tetap rencana ALLAH-lah yang lebih hebat. Oleh
karenanya, ketika kita ta'aruf semestinya kita tidak perlu memendam
kecenderungan kepada pasangan, yang nantinya akan membuat kita sakit
hati jika ternyata proses taaruf yang sedang kita jalani tidak berjalan
seperti yang kita harapkan. Tetap bersikap legawa, apapun yg terjadi
dengan proses yang tengah kita hadapi. Karena, jodoh adalah kehendak
ALLAH.
Sahabatku.., sekarang sudah jelas kan apa perbedaan
pacaran dengan taaruf? Dalam islam tidak ada yang namanya pacaran, dan
pacaran itu hukumnya HARAM, karena aktivitas pacaran sangat dekat dengan
zina. Dan ternyata ta’aruf banyak kelebihannya dibanding dengan
pacaran, dan Insya ALLAH diridhoi ALLAH.
Jadi.., kita mau
mencari kebahagiaan dunia akhirat dan menggapai ridhoNya atau malah mau
mencari kesulitan, dengan mencoba-coba melanggar perintahNYa dan
mendapat murkaNya?. Sahabatku.., yuk kita benahi diri kita dan
menjaganya dari hal-hal yang dapat mengotori hati,
Kamis, 29 September 2011
Kata Mutiara - Kala Air Mata dan Hati Menyapa
♥♥ Kala Air Mata dan Hati Menyapa ♥♥
BismillahirRohmaanirRohiim ...
Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Pembaca BDMCS yang Di Rahmati ALLAH ....
Kala air mata menyapaku....Ia bertanya . . ." Wahai diri .....
berapa liter aku yg telah engkau keluarkan dengan percuma ?"
Aku menjawab, "tidak ada 1 L pun engkau aku keluarkan dengan percuma."
Ia pun bertanya lagi , "lalu, apakah engkau menangsi duniawi dan cinta penghalang surgawi itu bukan hal yg percuma ? Karena ku tau, aku sering engkau keluarkan hanya untuk hal itu. Sedangkan hanya beberapa liter aku engkau keluarkan, dan dengan menghitung jaripun dapat terhtung ketika engkau menangisi dosa2mu, engkau menyesal atas kelakuan nakalmu, engkau merasa kehilangan Dzat yang telah menciptakanku dan menyukupi hidupmu.
Sungguh !!! kenapa ini bisa terjadi wahai diri ? Apa yg harus aku jawab nanti ketika aku dimintai pertanggung jawaban atas keluarnya aku.. Wahai diri apakah, hatimu telah mengeras sehingga rasa sedihpun tak tergores dalam hatimu, yang berarti itu menyukarkan engkau menangis dan mengeluarkan aku utk menyesali karna engkau telah mendustai-Nya ? "
Astaghfirullah Al 'Adziim .....sungguh, aku telah mendustai-Mu ya ALLAH ...
Pembaca BDMCS yang Berbahgia ....
Hatipun berbicara padaku...." Wahai diri.... kini ijinkan aku berbicara padamu. ..
Wahai diri,...kenapa engkau membuat aku keras seperti batu. Kadang rasa ibamu terhadap saudaramu yang kekurangan, disertai riyamu ?
Wahai diri .....kenapa ketika engkau sedang bermunajat kepada-Nya,
engkau pergunakan aku merasakan hal yang lain, aku berkata tidak sesuai dengan bibirmu ?
Wahai diri .....kenapa aku engkau jadikan sebagai penyimpan rasa untuk orang-orang yg belum halal untukmu, jika aku hitung besarnya rasa cintamu kepada kedua orang tuamu sangatlah kecil dibandingkan rasa cintamu kepada orang yang belum halal untukmu. Engkau membiarkan aku jatuh dan engkau pula yang membiarkan aku patah. Engkau membiarkan aku kasmaran, yang karenanya, rasa cinta yg ada untuk Dzat yang Maha Sempurna dan untuk orang tuamu sangat kecil kualitasnya. Ketika aku patah, engkau menyalahkan cinta.
Tapi taukah wahai diri ...cintapun tak ingn selalu engkau salahkan,
cinta yang tidak halal ada karena ulahmu,
wahai diri.....Sadarlah wahai diri ....
kasihanilah dirimu dan kami, kami yang harus bekerja tidak sesuai dengan perintah-Nya. " Astaghfirullah Al 'Adziim ...
Ya Allah inilah pengakuan mereka ....
mereka yang selalu aku tipu dengan mudahnya....
Mereka menyadarkan aku ya Allah.....Betapa aku telah khilaf ....
Tidak satu atau dua detik ...
Tidak satu atau dua menit....
Berhari-hari aku khilaf....
berminggu-minggu aku salah...
Berbulan-bulan aku hina....
dan kini mungkin, Bertahun-tahun aku nista....
Ya Rabb...
benar kata air mataku,...
dalam bermunajatku pada-Mu...
Ia sukar keluar karena kerasnya hatiku...
tangisku,banyak terjadi karena jahatnya duniawi....
tangisku,banyak terjadi karena hilangnya cinta penghalang surgawi....
Ya Rabb,...
Pintaku dalam do'a beribu-ribu pada-Mu...
Tapi ikhtiarku hanya satu...
Ya Rabb,...
Ketika lapang aku bersyukur...
tapi sempit aku kufur...
Lapang aku kufur...
tapi sempit aku bersyukur...
lapang aku lupa....
dan sempitpun aku masih berbuat dosa...
Ya Rabb,....
bibir ini sulit untuk dzikir....
tapi lagu ku lantunkan hingga akhir....
Ya Rabb,....
berhala kini ada....
ku buat dengan sengaja....
yang setiap hari aku puja....
hingga izzahku menjadi hina....
teriakku ketika melihat mereka....
membuat bisingnya telinga....
tapi Engkau ku lupa ....
ya Rabb,...
ukhuwah kini telah pudar....
terkikis oleh zaman yang slalu bertengkar....
dimana surga bagian tengah-Mu ku lupakan....
karena setiap perdebatan slalu ku ramaikan.....
saudara" seimanku,...ku caci hingga hatinya mati dan tumbuhlah benci....
ya Rabb,....
keadaanku kini bertebaran dimana-mana....
hingga ajnabi tahu tapi aku tak malu .....
ia menyapa, aku jawab dg senyum manis nan mungkin manja....
Ya Rabb,....
kematian mengintaiku....
bukan karena ia mencintaiku....
bukan pula karena ia iba padaku....
tapi karena ia terdekat denganku....
tapi kenapa, aku slalu lupa akan hal itu ?
ya Rabb,
lidahku tak ingin berdusta
saat ini ku jujur dengan penuh dosa,
ya Rabb,...
Ampuni aku..
Aku yang kotor penuh lumpur....
Aku yang hina tapi sombong tiada kentara....
Aku yang dusta dengan kata-kata ....
Ampuni aku Ya Rabb......
Pintaku saat ini pada-Mu ya Allah..
Biar tangisku hanya untuk bermunajat pada-Mu...
Biar cintaku hanya milik-Mu...
Biar ikhtiar dan doa menjadi satu....
Biarkan ketika lapang dan sempit aku ingat pada-Mu....
Biarkan yang kupuja hanya Engkau....
Biarkan Ukhuwah jadi sandaran indah penuh berkah....
Biar keadaan ku tutup menjadi Izzah malu....
Biar kematian slalu kusadari tiap waktu....
dan jangan biarkan ajnabi mengaggu pendirianku..
" Semoga Artkel singkat ini memberikan manfaat untuk kita semua "
Sekian ... Wassalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh ....
BismillahirRohmaanirRohiim
Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Pembaca BDMCS yang Di Rahmati ALLAH ....
Kala air mata menyapaku....Ia bertanya . . ." Wahai diri .....
berapa liter aku yg telah engkau keluarkan dengan percuma ?"
Aku menjawab, "tidak ada 1 L pun engkau aku keluarkan dengan percuma."
Ia pun bertanya lagi , "lalu, apakah engkau menangsi duniawi dan cinta penghalang surgawi itu bukan hal yg percuma ? Karena ku tau, aku sering engkau keluarkan hanya untuk hal itu. Sedangkan hanya beberapa liter aku engkau keluarkan, dan dengan menghitung jaripun dapat terhtung ketika engkau menangisi dosa2mu, engkau menyesal atas kelakuan nakalmu, engkau merasa kehilangan Dzat yang telah menciptakanku dan menyukupi hidupmu.
Sungguh !!! kenapa ini bisa terjadi wahai diri ? Apa yg harus aku jawab nanti ketika aku dimintai pertanggung jawaban atas keluarnya aku.. Wahai diri apakah, hatimu telah mengeras sehingga rasa sedihpun tak tergores dalam hatimu, yang berarti itu menyukarkan engkau menangis dan mengeluarkan aku utk menyesali karna engkau telah mendustai-Nya ? "
Astaghfirullah Al 'Adziim .....sungguh, aku telah mendustai-Mu ya ALLAH ...
Pembaca BDMCS yang Berbahgia ....
Hatipun berbicara padaku...." Wahai diri.... kini ijinkan aku berbicara padamu. ..
Wahai diri,...kenapa engkau membuat aku keras seperti batu. Kadang rasa ibamu terhadap saudaramu yang kekurangan, disertai riyamu ?
Wahai diri .....kenapa ketika engkau sedang bermunajat kepada-Nya,
engkau pergunakan aku merasakan hal yang lain, aku berkata tidak sesuai dengan bibirmu ?
Wahai diri .....kenapa aku engkau jadikan sebagai penyimpan rasa untuk orang-orang yg belum halal untukmu, jika aku hitung besarnya rasa cintamu kepada kedua orang tuamu sangatlah kecil dibandingkan rasa cintamu kepada orang yang belum halal untukmu. Engkau membiarkan aku jatuh dan engkau pula yang membiarkan aku patah. Engkau membiarkan aku kasmaran, yang karenanya, rasa cinta yg ada untuk Dzat yang Maha Sempurna dan untuk orang tuamu sangat kecil kualitasnya. Ketika aku patah, engkau menyalahkan cinta.
Tapi taukah wahai diri ...cintapun tak ingn selalu engkau salahkan,
cinta yang tidak halal ada karena ulahmu,
wahai diri.....Sadarlah wahai diri ....
kasihanilah dirimu dan kami, kami yang harus bekerja tidak sesuai dengan perintah-Nya. " Astaghfirullah Al 'Adziim ...
Ya Allah inilah pengakuan mereka ....
mereka yang selalu aku tipu dengan mudahnya....
Mereka menyadarkan aku ya Allah.....Betapa aku telah khilaf ....
Tidak satu atau dua detik ...
Tidak satu atau dua menit....
Berhari-hari aku khilaf....
berminggu-minggu aku salah...
Berbulan-bulan aku hina....
dan kini mungkin, Bertahun-tahun aku nista....
Ya Rabb...
benar kata air mataku,...
dalam bermunajatku pada-Mu...
Ia sukar keluar karena kerasnya hatiku...
tangisku,banyak terjadi karena jahatnya duniawi....
tangisku,banyak terjadi karena hilangnya cinta penghalang surgawi....
Ya Rabb,...
Pintaku dalam do'a beribu-ribu pada-Mu...
Tapi ikhtiarku hanya satu...
Ya Rabb,...
Ketika lapang aku bersyukur...
tapi sempit aku kufur...
Lapang aku kufur...
tapi sempit aku bersyukur...
lapang aku lupa....
dan sempitpun aku masih berbuat dosa...
Ya Rabb,....
bibir ini sulit untuk dzikir....
tapi lagu ku lantunkan hingga akhir....
Ya Rabb,....
berhala kini ada....
ku buat dengan sengaja....
yang setiap hari aku puja....
hingga izzahku menjadi hina....
teriakku ketika melihat mereka....
membuat bisingnya telinga....
tapi Engkau ku lupa ....
ya Rabb,...
ukhuwah kini telah pudar....
terkikis oleh zaman yang slalu bertengkar....
dimana surga bagian tengah-Mu ku lupakan....
karena setiap perdebatan slalu ku ramaikan.....
saudara" seimanku,...ku caci hingga hatinya mati dan tumbuhlah benci....
ya Rabb,....
keadaanku kini bertebaran dimana-mana....
hingga ajnabi tahu tapi aku tak malu .....
ia menyapa, aku jawab dg senyum manis nan mungkin manja....
Ya Rabb,....
kematian mengintaiku....
bukan karena ia mencintaiku....
bukan pula karena ia iba padaku....
tapi karena ia terdekat denganku....
tapi kenapa, aku slalu lupa akan hal itu ?
ya Rabb,
lidahku tak ingin berdusta
saat ini ku jujur dengan penuh dosa,
ya Rabb,...
Ampuni aku..
Aku yang kotor penuh lumpur....
Aku yang hina tapi sombong tiada kentara....
Aku yang dusta dengan kata-kata ....
Ampuni aku Ya Rabb......
Pintaku saat ini pada-Mu ya Allah..
Biar tangisku hanya untuk bermunajat pada-Mu...
Biar cintaku hanya milik-Mu...
Biar ikhtiar dan doa menjadi satu....
Biarkan ketika lapang dan sempit aku ingat pada-Mu....
Biarkan yang kupuja hanya Engkau....
Biarkan Ukhuwah jadi sandaran indah penuh berkah....
Biar keadaan ku tutup menjadi Izzah malu....
Biar kematian slalu kusadari tiap waktu....
dan jangan biarkan ajnabi mengaggu pendirianku..
" Semoga Artkel singkat ini memberikan manfaat untuk kita semua "
Sekian ... Wassalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh ....
Kata Mutiara - Seandainya Aku Mati
SEANDAINYA AKU MATI
Seandainya aku mati ...........
Segerakan mandikan jasadku
Sholatkan di Mesjid tempatku biasa mengaji
Segerakan secepatnya Penguburanku
Tak perlu menunggu lama
Tak usah semua ada
Aku ingin segera beristirahat
Seandainya aku mati .............
Tak mau ada keramaian
Kecuali yang mendoakan ku
Biarkan aku beristirahat dengan tenang
Seandainya aku mati ..............
Urusanku dengan dunia telah putus ,
kecuali tiga perkara
AMAL JARIAH , ILMU YANG BERGUNA dan DOA ANAK KU YANG SHOLEH /SHOLEHA
Seandainya aku mati ............
Segerakan dengan sederhana
Jangan ada perayaan
Tak perlu ada pembacaan sejarah kehidupan
Tak mau ada pidato
Jangan ada tangis tangisan
Jika ada yang cinta
Istirahatkan saja aku dengan tenang
Seandainya aku mati ................
Kuburkan aku di pemakaman yang mana saja
Tak perlu ada tabur bunga
Jangan ada karangan bunga
Aku tak suka bunga
Tak usah nisankan pula
Tak mau namaku tertera di sana
Urusanku dengan nama telah usai
Seandainya aku mati ..........
Lupakan dan jangan kenang-kenang aku pula
Istirahatkan saja sesegera
Biar aku tenang
Seandainya aku mati.......
Jangan ada gundukan di makamku
Ratakan saja
Agar mudah buat yang menyayangiku
Untuk segera lupakan aku
Seandainya aku mati ........
Tolong…
kumohon
Tolong saja
Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang
Seperti yang kuinginkan
Seandainya aku mati..........
Seandainya.....
Seandainya aku mati ...........
Segerakan mandikan jasadku
Sholatkan di Mesjid tempatku biasa mengaji
Segerakan secepatnya Penguburanku
Tak perlu menunggu lama
Tak usah semua ada
Aku ingin segera beristirahat
Seandainya aku mati .............
Tak mau ada keramaian
Kecuali yang mendoakan ku
Biarkan aku beristirahat dengan tenang
Seandainya aku mati ..............
Urusanku dengan dunia telah putus ,
kecuali tiga perkara
AMAL JARIAH , ILMU YANG BERGUNA dan DOA ANAK KU YANG SHOLEH /SHOLEHA
Seandainya aku mati ............
Segerakan dengan sederhana
Jangan ada perayaan
Tak perlu ada pembacaan sejarah kehidupan
Tak mau ada pidato
Jangan ada tangis tangisan
Jika ada yang cinta
Istirahatkan saja aku dengan tenang
Seandainya aku mati ................
Kuburkan aku di pemakaman yang mana saja
Tak perlu ada tabur bunga
Jangan ada karangan bunga
Aku tak suka bunga
Tak usah nisankan pula
Tak mau namaku tertera di sana
Urusanku dengan nama telah usai
Seandainya aku mati ..........
Lupakan dan jangan kenang-kenang aku pula
Istirahatkan saja sesegera
Biar aku tenang
Seandainya aku mati.......
Jangan ada gundukan di makamku
Ratakan saja
Agar mudah buat yang menyayangiku
Untuk segera lupakan aku
Seandainya aku mati ........
Tolong…
kumohon
Tolong saja
Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang
Seperti yang kuinginkan
Seandainya aku mati..........
Seandainya.....
Kata Mutiara - Madah Cinta
Kali ini ada Madah yang membuat pikiran serta hati saya terbuka catatan seorang sahabat muslimah telah silam yang terpendam dalam diamnya yang ia curahkan lewat diary pena Cinta dunia maya sementara dirinya saat ini tergeletak tak berdaya mohon doa sahabat semua akan kesembuhannya agar bisa berbagi cinta melalui pena . dialah sahabatku pendiri ღ Madah Cinta ღ
Kata Mutiara - Isra Mi'raj (Rajaban)
¨ بسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم *
السلام عليكم ورحمة الله وبركته
*•*¨*•♫♥♥♥♥♥♫•*¨*• *
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “. (QS. : 17 : 1).
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan, dan intelegensi kosmik, yang juga bersinar di dalam diri manusia yang melakukan peringatan atau Rajaban di bulan itu, dan merupakan sarana pula untuk menyadari keberadaan yang Maha Esa.
Datangnya wahyu secara tiba-tiba seperti kilat, yang berisikan perintah Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, agar menjalankan Isra' dan Mi'raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dapat disamakan dengan “jatuhnya batu di sebuah kolam air yang menimbulkan riak-riak untuk bergerak keluar seperti lingkaran konsentris dari pusat “.
Al-Qur'an dengan struktur puitisnya, yang berdasarkan irama yang tegas dan pola nada yang sangat halus. Mengundang reaksi dalam jiwa masyarakat Islam, dan menjadikan Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban), sebagai suatu budaya yang sangat penting dalam Agama Islam, karena ia (Isra' Mi'raj) merupakan induk dari berbagai budaya Islam lainnya.
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw ini (Rajaban) merefleksikan gema kitab Suci dalam pikiran setiap orang muslim yang memperingati atau mengerjakan berbagai ibadah-ibadah suci lainnya seperti puasa, dzikrullah (Istigfar Rajab), dan lain sebagainya di bulan suci itu. Dan pada gilirannya gema tersebut akan membuat kenangan dalam pikiran dan jiwa orang - orang yang melakukannya dengan hati yang ikhlash karena Allah Ta'ala semata. “Karena keikhlasan inilah yang akan mengembalikan mereka pada keadaan dengan kegembiraan dan keindahan surgawi”. Di sinilah pengaruh kimiawi atas jiwa seseorang dalam menjalankan puasa dan memperbanyak dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan itu akan mempengaruhi jiwanya, terhadap adanya kebenaran.
Berdasarkan seluruh kehidupan yang mencerminkan kebudayaan Islam tradisional, semua bentuk-bentuk ibadah didalamnya akan saling berhubungan melalui prinsip-prinsip tradisional, yang meresapkan nilai kesucian, seperti halnya prinsip-prinsip spiritual yang mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia tradisional dalam semua bentuknya.
Nabi Muhammad Saw saat melakukan Mi'raj (pendakian) ketingkat perjalanan akhirnya (langit ke tujuh), menuju hadirat Tuhan, ia diselimuti oleh “Raf-raf” (kain hijau) yang turun dari atas dengan cahayanya yang sangat menyilaukan pandangan matanya. Cahaya itu lebih kuat dari cahaya (sinar) matahari. Setelah raf-raf (kain hijau) membungkus dirinya, Ia (Nabi Muhammad Saw) terangkat keatas dan melintasi tabir demi tabir, yang akhirnya ia (Muhammad Saw) telah melintasi tujuh puluh tabir, yang mana jarak antara tabir ke tabir lainnya adalah lima ratus tahun perjalanan. Dan sampailah ia pada singgasana Tuhan Yang Esa (Al-Arsy).
Cahaya yang menyinari raf-raf (kain hijau) senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan dan mencerminkan Ke Maha Kasih-Nya atas diri manusia yang paling sempurna dimuka bumi (Muhammad). Al-Qur'an telah menyebutkan: “Cahaya diantara cahaya. Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki menuju cahaya” (Q.S.24 : 35).
Tujuh puluh tabir yang dilintasi (dilewati) oleh Nabi Saw, terletak diatas A'raaf (tempat yang paling tinggi diantara surga dan neraka) dan sebagian pembatasnya (surga dan neraka). Pada setiap satu tabir terdapat pintu gerbang yang terbuat dari cahaya. ”Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (Misykat), yang didalamnya ada pelita besar”. (Q.S. 24 : 35).
Selain memudahkan pelaksanaan ibadah puasa dan dzikrullah (Istigfar Rajab), Islam juga mengungkapkan watak teomorfis manusia yang lebih baik daripada menyembunyikannya. Seseorang yang menikmati puasa dan dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan itu (Rajab), atau yang mampu menjalankannya dengan baik dan benar, maka secara potensial ia akan tetap hidup di surga yang ia ciptakan melalui keanggunan batin Al-Qur'an - Al-Kariim.
Sedangkan bagi mereka yang tidak memahami, dan tidak mampu menjalaninya. Maka mereka seperti telah jatuh keluar dari surga itu, karena mereka mengalami kejatuhan spiritual yang menjadi alasan utama desakkan mereka untuk tidak menjalaninya, walau sebenarnya mereka memiliki kemampuan untuk itu. Hal ini menunjukkan kegagalan mereka dalam mencapai tujuan yang suci lagi mulia.
“ Suatu kegagalan dalam mencapai tujuan di luar tradisi spiritual universal mereka terhadap keadaan obyektif dunia, sebuah interpretasi yang sama sekali tidak eksis dalam subyektivisme individual, dan kolektif yang mengalihkan kejatuhan jiwa menjadi keadaan yang dibutuhkan oleh eksistensi manusia dalam dunia kontemporer “.
Masyarakat Islam mampu melaksanakan dan mempertahankan budayanya yang bersifat spiritual sekaligus sensual, menyingkap selubung yang menutupi keindahan dunia ini beserta sifat fananya, dan menjelma dalam bentuk tatanan ibadah dan hari peringatan yang suci dan mensucikan pada alam transenden yang indah melalui teofani Tuhan.
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) merupakan warisan Muhammad Saw yang tetap di anggap sebagai realitas yang masih hidup dan tetap menyala laksana kutub - kutub spiritual dan norma - norma teladan. Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) tetap menjadi perhatian para pencari kebenaran dalam masyarakat Islam, dan jiwa para pelaku yang menjalankan ibadah puasa dan memperbanyak dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan Rajab itu, akan menjadi nilai universal bagi seluruh dunia Islam pada saat kebodohan mengancam untuk mencekik berbagai bentuk ibadah serta spiritualnya.
Oleh karena itu kewajiban masyarakat Islam adalah mengetahui dan memahami hakikat dari peringatan Isra dan Mi'raj Rasulullah Saw ini, dan bukan dianggap hanya sekadar hiburan semata, akan tetapi pahami pula prinsip-prinsip yang mendasarinya agar mendapatkan manfaat dan peningkatan yang membuatnya menjadi mungkin untuk mengenali lebih dekat dan menembus lebih dalam ke substansi ilahi dan kemudian memberitahukannya kepada yang lain.
Mengenai mereka yang tidak memahami makna dari peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw ini (Rajaban), serta ketidaktahuan mereka atas prinsip-prinsip yang menyelimutinya. Maka merupakan tugas suci lagi mulia untuk tidak menyembunyikan ketidaktahuan mereka dengan sebuah kebanggaan untuk menghancurkan segala sesuatu yang tidak diketahuinya.
“ Kejujuran yang kini dibicarakan setiap orang, menuntut agar seseorang tidak merusak karena kebutaannya terhadap realitas tradisi Islam, ataupun karena kreasi artistik yang telah kehilangan dirinya sendiri “.
Kekuatan kreatif dan kegembiraan seseorang yang melakukan Peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban), jauh dari adanya pencekikan, maka ia akan terbebas dari belenggu dan keterbatasan subyektif dirinya sendiri, dan ia pun akan memperoleh suatu universalitas dan kekuatan yang luar biasa. Orang seperti inilah yang tidak akan pernah menghilangkan makna spiritual dari budaya Islam yang umumnya disebabkan oleh kekeliruan interpretasi mengenai lingkungan tertentu yang membatasi Islam hanya pada aspek luarnya saja dan mengabaikan jurang yang memisahkan keindahan dan kemudharatan.
“Seorang muslim sejati akan dengan rendah hati menyadari keagungan tradisi yang dapat memberi arah dan orientasi kepadanya melalui penyerahan diri, pemusatan dan peleburan batin sepenuhnya “.
Maka dalam penyerahan diri dan bakatnya kepada tradisi ini, ibadah dan dzikrullah (Istigfar Rajab) yang dihasilkannya akan menjadi suci dan bersih dari taqlid buta. Melalui Peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) itu akan terbentuklah kembali keselarasan fundamental yang memungkinkan manusia untuk kembali pada keberadaan dan kesadarannya yang lebih tinggi. Sedangkan doktrin tentang keselarasan dalam makrokosmos akan terwujud pada taraf realitas yang lebih tinggi dan menjadi suram serta semakin samar dalam tingkat kosmos yang semakin rendah. Walaupun keselarasan (tanasub) itu sendiri merupakan bagian dari surgawi, bagian dari kosmik dan hirarki universal serta sekaligus menjadi sumber pencerahan.
Berbagai definisi dalam kebudayaan Islam bahwa Peringatan Isra Mi'raj (Rajaban) berkaitan erat dengan hukum yang mengatur gerak pemikiran manusia dalam perjalanannya menuju sumber spiritualitas sejati dengan beragam landasan epistemologis untuk mencapai kepastian yang logis dan mungkin saja terdapat perbedaan hasil dari masing-masing perjalanan yang dilaluinya itu melalui kemurnian dari tatanan suatu ibadah yang suci dan mensucikan.
Sementara hubungan antara Peringatan Isra Mi'raj (Rajaban) dan ibadah-ibadah suci yang dilakukan di bulan itu adalah merupakan suatu jembatan spiritualisme Islam yang justru dapat ditemukan dari hubungan metafisik yang mengikat keduanya. Karena spiritual dan ibadah tak pelak lagi selalu dikaitkan dengan “logos” dan menurut sudut pandang tradisional merupakan proses yang diikuti oleh pikiran dalam pencariannya (thallab) akan kebenaran.
Proses ini dimungkinkan oleh kekuatan logis pikiran yang merupakan perluasan dari prinsip intelektual, yang tiada lain adalah refleksi dari intelek Tuhan atau logos dalam bentuk pikiran. Prinsip yang sama ini merupakan sebab ontologis realitas kosmik, oleh karenanya ada hubungan (persesuaian) antara proses mental manusia dalam menjalani puasa di bulan Rajab dengan realitas eksternal, dan adanya kemungkinan bagi kecakapan logis pikiran untuk mencari kebenaran yang sesuai dengan realitas eksternal.
Prinsip ini pula-lah yang memberi makna pada substansi ibadah puasa di bulan Rajab itu. Oleh karena itu, menurut doktrin tradisional, puasa dan spiritual mempunyai sumber yang sama, yaitu intelek, dan saling melengkapi, jauh dari adanya pertentangan. Maka Peringatan Isra Mi'raj akan menjadi pertentangan dengan spiritual hanya apabila respek terhadap logika yang telah diubah menjadi rasionalisme, karena sesungguhnya Peringatan Isra Mi'raj dan ibadah-ibadah yang dilakukan di bulan itu merupakan “sarana untuk mengekspresikan pengetahuan yang benar-benar intelektual yang direduksi menjadi transformasi dalam jiwa manusia dengan ditemukannya kembali hubungan primordial manusia dengan prinsip spiritual dan intelektual segala sesuatu”.
السلام عليكم ورحمة الله وبركته
*•*¨*•♫♥♥♥♥♥♫•*¨*• *
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “. (QS. : 17 : 1).
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan, dan intelegensi kosmik, yang juga bersinar di dalam diri manusia yang melakukan peringatan atau Rajaban di bulan itu, dan merupakan sarana pula untuk menyadari keberadaan yang Maha Esa.
Datangnya wahyu secara tiba-tiba seperti kilat, yang berisikan perintah Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, agar menjalankan Isra' dan Mi'raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dapat disamakan dengan “jatuhnya batu di sebuah kolam air yang menimbulkan riak-riak untuk bergerak keluar seperti lingkaran konsentris dari pusat “.
Al-Qur'an dengan struktur puitisnya, yang berdasarkan irama yang tegas dan pola nada yang sangat halus. Mengundang reaksi dalam jiwa masyarakat Islam, dan menjadikan Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban), sebagai suatu budaya yang sangat penting dalam Agama Islam, karena ia (Isra' Mi'raj) merupakan induk dari berbagai budaya Islam lainnya.
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw ini (Rajaban) merefleksikan gema kitab Suci dalam pikiran setiap orang muslim yang memperingati atau mengerjakan berbagai ibadah-ibadah suci lainnya seperti puasa, dzikrullah (Istigfar Rajab), dan lain sebagainya di bulan suci itu. Dan pada gilirannya gema tersebut akan membuat kenangan dalam pikiran dan jiwa orang - orang yang melakukannya dengan hati yang ikhlash karena Allah Ta'ala semata. “Karena keikhlasan inilah yang akan mengembalikan mereka pada keadaan dengan kegembiraan dan keindahan surgawi”. Di sinilah pengaruh kimiawi atas jiwa seseorang dalam menjalankan puasa dan memperbanyak dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan itu akan mempengaruhi jiwanya, terhadap adanya kebenaran.
Berdasarkan seluruh kehidupan yang mencerminkan kebudayaan Islam tradisional, semua bentuk-bentuk ibadah didalamnya akan saling berhubungan melalui prinsip-prinsip tradisional, yang meresapkan nilai kesucian, seperti halnya prinsip-prinsip spiritual yang mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia tradisional dalam semua bentuknya.
Nabi Muhammad Saw saat melakukan Mi'raj (pendakian) ketingkat perjalanan akhirnya (langit ke tujuh), menuju hadirat Tuhan, ia diselimuti oleh “Raf-raf” (kain hijau) yang turun dari atas dengan cahayanya yang sangat menyilaukan pandangan matanya. Cahaya itu lebih kuat dari cahaya (sinar) matahari. Setelah raf-raf (kain hijau) membungkus dirinya, Ia (Nabi Muhammad Saw) terangkat keatas dan melintasi tabir demi tabir, yang akhirnya ia (Muhammad Saw) telah melintasi tujuh puluh tabir, yang mana jarak antara tabir ke tabir lainnya adalah lima ratus tahun perjalanan. Dan sampailah ia pada singgasana Tuhan Yang Esa (Al-Arsy).
Cahaya yang menyinari raf-raf (kain hijau) senantiasa berhubungan dengan kehadiran Tuhan dan mencerminkan Ke Maha Kasih-Nya atas diri manusia yang paling sempurna dimuka bumi (Muhammad). Al-Qur'an telah menyebutkan: “Cahaya diantara cahaya. Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki menuju cahaya” (Q.S.24 : 35).
Tujuh puluh tabir yang dilintasi (dilewati) oleh Nabi Saw, terletak diatas A'raaf (tempat yang paling tinggi diantara surga dan neraka) dan sebagian pembatasnya (surga dan neraka). Pada setiap satu tabir terdapat pintu gerbang yang terbuat dari cahaya. ”Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (Misykat), yang didalamnya ada pelita besar”. (Q.S. 24 : 35).
Selain memudahkan pelaksanaan ibadah puasa dan dzikrullah (Istigfar Rajab), Islam juga mengungkapkan watak teomorfis manusia yang lebih baik daripada menyembunyikannya. Seseorang yang menikmati puasa dan dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan itu (Rajab), atau yang mampu menjalankannya dengan baik dan benar, maka secara potensial ia akan tetap hidup di surga yang ia ciptakan melalui keanggunan batin Al-Qur'an - Al-Kariim.
Sedangkan bagi mereka yang tidak memahami, dan tidak mampu menjalaninya. Maka mereka seperti telah jatuh keluar dari surga itu, karena mereka mengalami kejatuhan spiritual yang menjadi alasan utama desakkan mereka untuk tidak menjalaninya, walau sebenarnya mereka memiliki kemampuan untuk itu. Hal ini menunjukkan kegagalan mereka dalam mencapai tujuan yang suci lagi mulia.
“ Suatu kegagalan dalam mencapai tujuan di luar tradisi spiritual universal mereka terhadap keadaan obyektif dunia, sebuah interpretasi yang sama sekali tidak eksis dalam subyektivisme individual, dan kolektif yang mengalihkan kejatuhan jiwa menjadi keadaan yang dibutuhkan oleh eksistensi manusia dalam dunia kontemporer “.
Masyarakat Islam mampu melaksanakan dan mempertahankan budayanya yang bersifat spiritual sekaligus sensual, menyingkap selubung yang menutupi keindahan dunia ini beserta sifat fananya, dan menjelma dalam bentuk tatanan ibadah dan hari peringatan yang suci dan mensucikan pada alam transenden yang indah melalui teofani Tuhan.
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) merupakan warisan Muhammad Saw yang tetap di anggap sebagai realitas yang masih hidup dan tetap menyala laksana kutub - kutub spiritual dan norma - norma teladan. Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) tetap menjadi perhatian para pencari kebenaran dalam masyarakat Islam, dan jiwa para pelaku yang menjalankan ibadah puasa dan memperbanyak dzikrullah (Istigfar Rajab) di bulan Rajab itu, akan menjadi nilai universal bagi seluruh dunia Islam pada saat kebodohan mengancam untuk mencekik berbagai bentuk ibadah serta spiritualnya.
Oleh karena itu kewajiban masyarakat Islam adalah mengetahui dan memahami hakikat dari peringatan Isra dan Mi'raj Rasulullah Saw ini, dan bukan dianggap hanya sekadar hiburan semata, akan tetapi pahami pula prinsip-prinsip yang mendasarinya agar mendapatkan manfaat dan peningkatan yang membuatnya menjadi mungkin untuk mengenali lebih dekat dan menembus lebih dalam ke substansi ilahi dan kemudian memberitahukannya kepada yang lain.
Mengenai mereka yang tidak memahami makna dari peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw ini (Rajaban), serta ketidaktahuan mereka atas prinsip-prinsip yang menyelimutinya. Maka merupakan tugas suci lagi mulia untuk tidak menyembunyikan ketidaktahuan mereka dengan sebuah kebanggaan untuk menghancurkan segala sesuatu yang tidak diketahuinya.
“ Kejujuran yang kini dibicarakan setiap orang, menuntut agar seseorang tidak merusak karena kebutaannya terhadap realitas tradisi Islam, ataupun karena kreasi artistik yang telah kehilangan dirinya sendiri “.
Kekuatan kreatif dan kegembiraan seseorang yang melakukan Peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban), jauh dari adanya pencekikan, maka ia akan terbebas dari belenggu dan keterbatasan subyektif dirinya sendiri, dan ia pun akan memperoleh suatu universalitas dan kekuatan yang luar biasa. Orang seperti inilah yang tidak akan pernah menghilangkan makna spiritual dari budaya Islam yang umumnya disebabkan oleh kekeliruan interpretasi mengenai lingkungan tertentu yang membatasi Islam hanya pada aspek luarnya saja dan mengabaikan jurang yang memisahkan keindahan dan kemudharatan.
“Seorang muslim sejati akan dengan rendah hati menyadari keagungan tradisi yang dapat memberi arah dan orientasi kepadanya melalui penyerahan diri, pemusatan dan peleburan batin sepenuhnya “.
Maka dalam penyerahan diri dan bakatnya kepada tradisi ini, ibadah dan dzikrullah (Istigfar Rajab) yang dihasilkannya akan menjadi suci dan bersih dari taqlid buta. Melalui Peringatan Isra Mi'raj Nabi Besar Muhammad Saw (Rajaban) itu akan terbentuklah kembali keselarasan fundamental yang memungkinkan manusia untuk kembali pada keberadaan dan kesadarannya yang lebih tinggi. Sedangkan doktrin tentang keselarasan dalam makrokosmos akan terwujud pada taraf realitas yang lebih tinggi dan menjadi suram serta semakin samar dalam tingkat kosmos yang semakin rendah. Walaupun keselarasan (tanasub) itu sendiri merupakan bagian dari surgawi, bagian dari kosmik dan hirarki universal serta sekaligus menjadi sumber pencerahan.
Berbagai definisi dalam kebudayaan Islam bahwa Peringatan Isra Mi'raj (Rajaban) berkaitan erat dengan hukum yang mengatur gerak pemikiran manusia dalam perjalanannya menuju sumber spiritualitas sejati dengan beragam landasan epistemologis untuk mencapai kepastian yang logis dan mungkin saja terdapat perbedaan hasil dari masing-masing perjalanan yang dilaluinya itu melalui kemurnian dari tatanan suatu ibadah yang suci dan mensucikan.
Sementara hubungan antara Peringatan Isra Mi'raj (Rajaban) dan ibadah-ibadah suci yang dilakukan di bulan itu adalah merupakan suatu jembatan spiritualisme Islam yang justru dapat ditemukan dari hubungan metafisik yang mengikat keduanya. Karena spiritual dan ibadah tak pelak lagi selalu dikaitkan dengan “logos” dan menurut sudut pandang tradisional merupakan proses yang diikuti oleh pikiran dalam pencariannya (thallab) akan kebenaran.
Proses ini dimungkinkan oleh kekuatan logis pikiran yang merupakan perluasan dari prinsip intelektual, yang tiada lain adalah refleksi dari intelek Tuhan atau logos dalam bentuk pikiran. Prinsip yang sama ini merupakan sebab ontologis realitas kosmik, oleh karenanya ada hubungan (persesuaian) antara proses mental manusia dalam menjalani puasa di bulan Rajab dengan realitas eksternal, dan adanya kemungkinan bagi kecakapan logis pikiran untuk mencari kebenaran yang sesuai dengan realitas eksternal.
Prinsip ini pula-lah yang memberi makna pada substansi ibadah puasa di bulan Rajab itu. Oleh karena itu, menurut doktrin tradisional, puasa dan spiritual mempunyai sumber yang sama, yaitu intelek, dan saling melengkapi, jauh dari adanya pertentangan. Maka Peringatan Isra Mi'raj akan menjadi pertentangan dengan spiritual hanya apabila respek terhadap logika yang telah diubah menjadi rasionalisme, karena sesungguhnya Peringatan Isra Mi'raj dan ibadah-ibadah yang dilakukan di bulan itu merupakan “sarana untuk mengekspresikan pengetahuan yang benar-benar intelektual yang direduksi menjadi transformasi dalam jiwa manusia dengan ditemukannya kembali hubungan primordial manusia dengan prinsip spiritual dan intelektual segala sesuatu”.
Kata Mutiara - Lidah
Lidah adlh cipta'an allah yg mempunyai peranan pnting dlm kehidupan
manusia.ia bersifat halus lagi penuh misteri.kecil bentuknya tpi amat
besar pengaruhnya.baik pengaruh positif maupun negatif,ia termasuk
menjadi saksi utama atas keimanan seorang,karena iman dan kufur tidak bs
dketahui,kcuali persaksian lidah.-lidah juga dpt mengangkt dan
menghancurkan kehormatan seseorang di hdapan manusia maupun allah.DARI
LIDAH ORANG BISA DI SENANGI,DARI LIDAH JUGA ORNG BISA DI MUSUHI
Kata Mutiara - Maimunah binti Harits, Istri Terakhir Rasulullah
Maimunah binti Harits, Istri Terakhir Rasulullah
Nama lengkapnya adalah Barrah binti Al-Harits bin Hazm bin Bujair bin Hazm bin Rabiah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah. Ibunya bernama Hindun binti Aus bin Zubai bin Harits bin Hamatsah bin Jarsy.
Dalam keluarganya, Maimunah termasuk dalam tiga bersaudara yang memeluk Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Al-Mu’minah adalah tiga bersaudara, yaitu Maimunah, Ummu Fadhal, dan Asma’.”
Maimunah dilahirkan enam tahun sebelum masa kenabian, sehingga dia mengetahui saat-saat orang-orang hijrah ke Madinah. Dia banyak terpengaruh oleh peristiwa hijrah tersebut, dan juga banyak dipengaruhi kakak perempuannya, Ummu Fadhal, yang telah lebih dahulu memeluk Islam. Namun dia menyembunyikan keislamannya karena merasa bahwa lingkungannya tidak mendukung.
Tentang suaminya, banyak riwayat yang memperselisihkan, namun ada juga kesepakatan mereka tentang asal-usul suaminya yang berasal dan keluarga Abdul Uzza (Abu Lahab). Sebagian besar riwayat mengatakan nama suaminya adalah Abu Rahm bin Abdul-Uzza, seorang musyrik yang mati dalam keadaan syirik. Suaminya meninggalkan Maimunah sebagai janda pada usia 26 tahun.
Setelah suaminya meninggal, dengan leluasa Maimunah dapat menyatakan keimanan dan kecintaannya kepada Rasulullah. Sehingga dengan suka rela dia menyerahkan dirinya kepada Rasulullah untuk dinikahi. Dia adalah perempuan terakhir yang dinikahi Nabi SAW. Dan itu dilakukan pada tahun ketujuh Hijriyah dengan mahar 500 dirham.
Tentang penyerahan Maimunah kepada Nabi SAW ini telah dinyatakan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri- istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Ahzab: 50)
Maimunah tinggal bersama saudara perempuannya, Ummul Fadhal, istri Abbas bin Abdul Muththalib. Suatu ketika, kepada kakaknya, Maimunah menyatakan niat penyerahan dirinya kepada Rasulullah. Ummul Fadhal menyampaikan berita itu kepada suaminya sehingga Abbas pun mengabarkannya kepada Rasulullah.
Rasulullah mengutus seseorang kepada Abbas untuk meminang Maimunah. Betapa gembiranya perasaan Maimunah setelah mengetahui kesediaan Rasulullah menikahi dirinya.
Pada tahun berikutnya, setelah perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah bersama kaum Muslimin memasuki Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Sesuai dengan isi perjanjian Hudaibiyah, Nabi diizinkan untuk menetap di sana selama tiga hari.
Namun orang-orang Quraisy menolak permintaan Nabi dan kaum Muslimin untuk berdiam di sana lebih dari tiga hari. Kesempatan itu digunakan Rasulullah SAW untuk melangsungkan pernikahan dengan Maimunah. Setelah pernikahan itu, beliau dan kaum Muslimin meninggalkan Makkah.
Maimunah mulai memasuki kehidupan rumah tangga Rasulullah dan beliau menempatkannya di kamar tersendiri. Maimunah memperlakukan istri-istri beliau yang lain dengan baik dan penuh hormat dengan tujuan mendapatkan kerelaan hati beliau semata.
Tentang Maimunah, Aisyah pernah berkata. “Demi Allah, Maimunah adalah wanita yang baik kepada kami dan selalu menjaga silaturrahmi di antara kami.”
Dia dikenal dengan kezuhudannya, ketakwaannya, dan sikapnya yang selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Ia juga diriwayatkan memiliki ilmu pengetahuan yang luas.
Pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, bertepatan dengan perjalanan kembali dari haji—di suatu tempat dekat Saraf—Maimunah merasa ajalnya sudah tiba. Ketika itu dia berusia 80 tahun, bertepatan dengan tahun ke-61 Hijriyah. Dia dimakamkan di tempat itu juga sebagaimana wasiat yang dia sampaikan.
Maimunah meriwayatkan sekitar 76 hadits dari Nabi SAW. Beberapa hadits yang diriwayatkannya telah ditakhrij dalam kitab hadits Bukhari-Muslim sekitar 13 hadits; 7 hadits sama-sama disepakati oleh kedua imam (muttafaq ‘alaih), satu hadits lainnya ditulis oleh Bukhari, dan 5 hadits lainnya ditulis oleh Muslim.
Nama lengkapnya adalah Barrah binti Al-Harits bin Hazm bin Bujair bin Hazm bin Rabiah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah. Ibunya bernama Hindun binti Aus bin Zubai bin Harits bin Hamatsah bin Jarsy.
Dalam keluarganya, Maimunah termasuk dalam tiga bersaudara yang memeluk Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Al-Mu’minah adalah tiga bersaudara, yaitu Maimunah, Ummu Fadhal, dan Asma’.”
Maimunah dilahirkan enam tahun sebelum masa kenabian, sehingga dia mengetahui saat-saat orang-orang hijrah ke Madinah. Dia banyak terpengaruh oleh peristiwa hijrah tersebut, dan juga banyak dipengaruhi kakak perempuannya, Ummu Fadhal, yang telah lebih dahulu memeluk Islam. Namun dia menyembunyikan keislamannya karena merasa bahwa lingkungannya tidak mendukung.
Tentang suaminya, banyak riwayat yang memperselisihkan, namun ada juga kesepakatan mereka tentang asal-usul suaminya yang berasal dan keluarga Abdul Uzza (Abu Lahab). Sebagian besar riwayat mengatakan nama suaminya adalah Abu Rahm bin Abdul-Uzza, seorang musyrik yang mati dalam keadaan syirik. Suaminya meninggalkan Maimunah sebagai janda pada usia 26 tahun.
Setelah suaminya meninggal, dengan leluasa Maimunah dapat menyatakan keimanan dan kecintaannya kepada Rasulullah. Sehingga dengan suka rela dia menyerahkan dirinya kepada Rasulullah untuk dinikahi. Dia adalah perempuan terakhir yang dinikahi Nabi SAW. Dan itu dilakukan pada tahun ketujuh Hijriyah dengan mahar 500 dirham.
Tentang penyerahan Maimunah kepada Nabi SAW ini telah dinyatakan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri- istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Ahzab: 50)
Maimunah tinggal bersama saudara perempuannya, Ummul Fadhal, istri Abbas bin Abdul Muththalib. Suatu ketika, kepada kakaknya, Maimunah menyatakan niat penyerahan dirinya kepada Rasulullah. Ummul Fadhal menyampaikan berita itu kepada suaminya sehingga Abbas pun mengabarkannya kepada Rasulullah.
Rasulullah mengutus seseorang kepada Abbas untuk meminang Maimunah. Betapa gembiranya perasaan Maimunah setelah mengetahui kesediaan Rasulullah menikahi dirinya.
Pada tahun berikutnya, setelah perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah bersama kaum Muslimin memasuki Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Sesuai dengan isi perjanjian Hudaibiyah, Nabi diizinkan untuk menetap di sana selama tiga hari.
Namun orang-orang Quraisy menolak permintaan Nabi dan kaum Muslimin untuk berdiam di sana lebih dari tiga hari. Kesempatan itu digunakan Rasulullah SAW untuk melangsungkan pernikahan dengan Maimunah. Setelah pernikahan itu, beliau dan kaum Muslimin meninggalkan Makkah.
Maimunah mulai memasuki kehidupan rumah tangga Rasulullah dan beliau menempatkannya di kamar tersendiri. Maimunah memperlakukan istri-istri beliau yang lain dengan baik dan penuh hormat dengan tujuan mendapatkan kerelaan hati beliau semata.
Tentang Maimunah, Aisyah pernah berkata. “Demi Allah, Maimunah adalah wanita yang baik kepada kami dan selalu menjaga silaturrahmi di antara kami.”
Dia dikenal dengan kezuhudannya, ketakwaannya, dan sikapnya yang selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Ia juga diriwayatkan memiliki ilmu pengetahuan yang luas.
Pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, bertepatan dengan perjalanan kembali dari haji—di suatu tempat dekat Saraf—Maimunah merasa ajalnya sudah tiba. Ketika itu dia berusia 80 tahun, bertepatan dengan tahun ke-61 Hijriyah. Dia dimakamkan di tempat itu juga sebagaimana wasiat yang dia sampaikan.
Maimunah meriwayatkan sekitar 76 hadits dari Nabi SAW. Beberapa hadits yang diriwayatkannya telah ditakhrij dalam kitab hadits Bukhari-Muslim sekitar 13 hadits; 7 hadits sama-sama disepakati oleh kedua imam (muttafaq ‘alaih), satu hadits lainnya ditulis oleh Bukhari, dan 5 hadits lainnya ditulis oleh Muslim.
Langganan:
Postingan (Atom)